BALIEXPRESS.ID— Gelombang protes rakyat yang dipicu oleh aksi tak pantas dan pernyataan kontroversial sejumlah anggota DPR RI akhirnya berbuntut panjang.
Lima anggota dewan yang sebelumnya dikenal publik karena kiprahnya di dunia hiburan maupun politik, resmi dinonaktifkan dari keanggotaan DPR RI mulai Senin (1/9/2025).
Baca Juga: ASTAGA! Rumah Mewah yang Dijarah Massa Ternyata Bukan Milik Nafa Urbach, Ini Penjelasan Satpam
Kelima anggota yang "ditendang" dari parlemen ini berasal dari tiga fraksi partai besar: NasDem, PAN, dan Golkar.
Penonaktifan mereka merupakan respons langsung dari partai masing-masing terhadap tekanan publik yang memuncak setelah video joget-joget usai pengumuman kenaikan gaji DPR dan ucapan yang dinilai menyakiti hati rakyat viral di media sosial.
Berikut daftar nama anggota DPR yang dinonaktifkan:
- Ahmad Sahroni (Fraksi NasDem)
- Nafa Urbach (Fraksi NasDem)
- Uya Kuya (Surya Utama) (Fraksi PAN)
- Eko Patrio (Eko Hendro Purnomo) (Fraksi PAN)
- Adies Kadir (Fraksi Partai Golkar)
Penonaktifan Sahroni dan Nafa Urbach diumumkan langsung dalam surat resmi yang ditandatangani Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Sekjen Hermawi Taslim pada Minggu (31/8).
“Bahwa atas pertimbangan hal-hal tersebut di atas, DPP Partai NasDem menyatakan terhitung sejak hari Senin, 1 September 2025, DPP Partai NasDem menonaktifkan Saudara Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem,” bunyi isi surat tersebut.
Baca Juga: GAWAT! Rumah Puan Maharani Dikepung Massa Dini Hari, Ini yang Terjadi
Ahmad Sahroni sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI. Ia telah dicopot dari posisi itu dan dipindahkan ke Komisi I. Posisinya digantikan oleh Rusdi Masse, yang sebelumnya berada di Komisi IV.
Nafa Urbach juga kehilangan posisinya di Komisi IX dan jabatannya sebagai Bendahara Fraksi NasDem.
Fraksi PAN menyusul dengan menonaktifkan dua artis-politikusnya, Eko Patrio dan Uya Kuya. Keduanya dikeluarkan dari keanggotaan fraksi PAN di DPR RI melalui pernyataan resmi yang disampaikan Wakil Ketua Umum PAN, Viva Yoga Mauladi.
“Mencermati dinamika dan perkembangan saat ini, DPP PAN memutuskan untuk menonaktifkan Saudaraku Eko Hendro Purnomo (Eko Patrio) dan Saudaraku Surya Utama (Uya Kuya),” ujar Viva dalam keterangannya, Minggu (31/8).
Eko sebelumnya duduk di Komisi VI, sementara Uya Kuya di Komisi IX.
Sementara itu, Partai Golkar menonaktifkan Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir, tokoh senior yang menjabat dalam kepemimpinan periode 2024–2029.
“Menonaktifkan Saudara Adies Kadir sebagai anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, terhitung sejak Senin, 1 September 2025,” ujar Sekjen Golkar Sarmuji, Minggu.
Sarmuji menyatakan keputusan ini sebagai bagian dari penegakan disiplin dan etika internal partai terhadap anggota yang dianggap melanggar norma kepantasan publik.
Baca Juga: Usai Sahroni dan Nafa Urbach, PAN Nonaktifkan Eko Patrio dan Uya Kuya
Tak hanya kehilangan kursi di parlemen, beberapa dari mereka juga menjadi korban kemarahan massa. Rumah Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Uya Kuya di Jakarta Selatan, serta Eko Patrio di Mega Kuningan diserbu massa dalam aksi anarkis. Sejumlah barang berharga dilaporkan dijarah.
Rumah yang diduga milik Nafa Urbach di kawasan Bintaro juga diserbu. Namun, belakangan diketahui bahwa rumah tersebut sebenarnya milik mantan suaminya. Meski begitu, penjarahan tetap terjadi karena massa mengira Nafa tinggal di sana.
Massa yang menyerbu umumnya bukan warga sekitar dan mayoritas mengenakan masker.
Aparat keamanan di berbagai lokasi dilaporkan kewalahan menghadapi jumlah massa yang mencapai ratusan orang dalam tiap gelombang.
Pemicu utama kemarahan publik adalah video sejumlah anggota DPR yang berjoget riang setelah pengumuman kenaikan gaji dan tunjangan, di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sulit. Aksi itu dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap penderitaan rakyat.
Baca Juga: Tiga Pendaki Gunung Batukaru Dievakuasi Akibat Kelelahan, Satu Alami Patah Tulang
Ketegangan memuncak pada 28 Agustus 2025 saat seorang pengemudi ojek online tewas dalam demonstrasi di depan Gedung DPR, setelah terlindas kendaraan taktis Brimob. Insiden ini memperluas eskalasi protes ke berbagai daerah dan mengubah amarah publik menjadi aksi langsung ke kediaman para pejabat.
Editor : Wiwin Meliana