BALIEXPRESS.ID-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digalakkan untuk meningkatkan asupan nutrisi siswa di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, justru memicu insiden serius.
Sebanyak 20 siswa SDN 12 Benua Kayong, Kecamatan Benua Kayong, dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala keracunan makanan.
Baca Juga: Viral! Pemuda Ulah Pati di Tukad Bangkung, Detik-Detik Tinggalkan Rumah Beredar di Medsos
Kepala SDN 12 Benua Kayong, Dewi Hardina Febriani, menjelaskan bahwa kejadian bermula usai para siswa menyantap makanan MBG yang dibagikan sekitar pukul 09.30 WIB.
Menu yang disajikan hari itu terdiri dari nasi, filet ikan hiu goreng (nugget ikan hiu), oseng sayur, tahu goreng, dan jeruk.
Namun, tak lama setelah makan siang, beberapa murid mulai mengeluhkan sakit perut dan muntah-muntah, disusul gejala serupa pada belasan siswa lainnya.
Baca Juga: 24 Desa Wisata Bangli Jalan di Tempat, Minim Sentuhan Pemerintah
"Awalnya hanya beberapa anak yang sakit perut lalu muntah. Tapi makin lama makin banyak, jadi pihak puskesmas langsung datang ke sekolah," ujar Dewi dikutip dari Kaltimpost pada Kamis (25/09/2025).
Melihat jumlah siswa yang terdampak semakin bertambah, pihak sekolah segera menghubungi Puskesmas Benua Kayong.
Seluruh siswa kemudian dirujuk ke RSUD dr. Agoesdjam Ketapang untuk mendapat perawatan intensif.
Dalam keterangannya, Dewi menyebut bahwa menu nugget ikan hiu yang dibagikan memiliki aroma menyengat, dan sayuran yang disajikan terlihat berlendir, menandakan indikasi makanan tidak segar.
"Menunya ikan hiu, cuma baunya agak menyengat. Sayurnya juga agak berlendir," tambahnya.
Baca Juga: Kejari Gianyar Resmi Tahan Dua Tersangka Narkotika Usai Pelimpahan Tahap II
Hingga saat ini, 20 siswa masih menjalani perawatan dengan keluhan utama berupa mual, muntah, dan sesak napas.
Menanggapi kejadian ini, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Ketapang bersama tim pengawas program MBG langsung mengambil langkah tegas. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Mitra Mandiri 2 di Kecamatan Benua Kayong telah dinonaktifkan sementara dan akan menjalani proses evaluasi menyeluruh.
Sementara itu, Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, mengecam keras kelalaian dalam pengelolaan dapur MBG. Ia menegaskan, pengelola tidak bisa lepas tangan dan harus bertanggung jawab.
“Ini yang harus dievaluasi. Pengelola dapur tidak boleh lepas tangan, harus ada pertanggungjawaban. Kita ingin tahu penyebab keracunan ini, apakah karena kurang pengawasan atau faktor lain,” tegas Jamhuri.
Baca Juga: Pendangkalan Parah di PPN Pengambengan Jembrana, Nelayan Kesulitan Bongkar Ikan
Pemerintah Kabupaten Ketapang akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua dapur penyedia MBG dan akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan BPOM untuk uji laboratorium terhadap sampel makanan.
Program MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintah pusat untuk meningkatkan kualitas gizi anak usia sekolah. Namun, insiden seperti ini menegaskan perlunya pengawasan ketat terhadap kualitas bahan pangan dan sanitasi dapur.
Editor : Wiwin Meliana