BALIEXPRESS.ID – Insiden keracunan massal kembali mencoreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Barat.
Puluhan siswa SDN 12 Benua Kayong, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, mengalami gejala keracunan makanan usai menyantap menu MBG yang ternyata mengandung ikan filet hiu goreng.
Baca Juga: Ada Menu Ikan Hiu Goreng, Puluhan Siswa di Kalbar Keracunan Makan Bergizi Gratis
Menurut Kepala Sekolah SDN 12 Benua Kayong, Dewi Hardina Febriani, para siswa mulai mengeluhkan sakit perut dan muntah-muntah tak lama setelah menyantap menu makan siang sekitar pukul 09.30 WIB pada Rabu (24/9/2025).
“Awalnya hanya beberapa anak yang sakit perut, lalu muntah. Tapi makin lama jumlahnya bertambah. Akhirnya kami panggil Puskesmas, dan anak-anak dirujuk ke RSUD dr. Agoesdjam,” jelas Dewi.
Menu makan siang hari itu mencakup nasi, filet ikan hiu goreng, oseng sayur, tahu goreng, dan jeruk. Dalam pemeriksaan awal, ditemukan bahwa nugget ikan hiu berbau menyengat dan sayur dalam kondisi berlendir, menandakan indikasi pembusukan.
Yang mengejutkan, menu ikan hiu yang tak lazim dikonsumsi anak-anak ini ternyata direkomendasikan oleh ahli gizi di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini dikonfirmasi oleh Kepala Regional MBG Kalimantan Barat, Agus Kurniawi.
Baca Juga: Viral! Pemuda Ulah Pati di Tukad Bangkung, Detik-Detik Tinggalkan Rumah Beredar di Medsos
“Soal menu ikan hiu, itu murni kesalahan dan keteledoran dari SPPG kami. Mereka tidak teliti memilih menu. Ikan hiu itu dibeli dari TPI Rangga Sentap, produk lokal,” ungkap Agus.
Agus menegaskan bahwa ikan hiu bukan bahan pangan yang umum dalam program MBG, apalagi untuk siswa sekolah dasar.
Selain berpotensi mengandung merkuri, ikan hiu juga jarang dikonsumsi anak-anak sehingga dapat menimbulkan reaksi tubuh yang tak diharapkan.
“Saya sempat marah ke ahli gizi. Dia sudah meminta maaf dan mengakui bahwa ini murni keteledoran,” katanya.
Ahli gizi tersebut, menurut Agus, merupakan rekrutan lokal bergelar sarjana gizi yang bertanggung jawab menyusun menu MBG dengan komposisi seimbang — 30% protein, 40% karbohidrat, dan 30% serat. Namun, standar itu diabaikan dalam pelaksanaan.
Hingga kini, tercatat 20 siswa menjalani perawatan di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang dengan keluhan mual, muntah, dan sesak napas. Dapur SPPG yang menaungi distribusi MBG ini diketahui berada di bawah Yayasan Adinda Karunia Ilahi.
Baca Juga: 24 Desa Wisata Bangli Jalan di Tempat, Minim Sentuhan Pemerintah
Agus menegaskan bahwa apabila hasil investigasi membuktikan makanan dari MBG sebagai penyebab keracunan, maka Dapur SPPG akan ditutup secara permanen.
“Kalau tidak terbukti, kami tetap akan lakukan evaluasi besar-besaran bersama BGN. Kepala SPPG sudah kami nonaktifkan sampai waktu yang belum ditentukan,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, meminta agar pihak pengelola MBG tidak lepas tangan dan bertanggung jawab penuh atas insiden ini.
“Pengelola dapur harus dievaluasi total. Kami ingin tahu penyebab keracunan ini, apakah karena pengawasan yang lemah atau faktor lain,” ujar Jamhuri.
Baca Juga: Kejari Gianyar Resmi Tahan Dua Tersangka Narkotika Usai Pelimpahan Tahap II
Insiden ini menambah daftar panjang catatan buruk implementasi program MBG di daerah, dan menjadi peringatan keras agar kualitas makanan dan kompetensi ahli gizi dievaluasi menyeluruh.
Editor : Wiwin Meliana