BALIEXPRESS.ID-Fakta mengejutkan terungkap dalam kasus kematian Brigadir Esco Faska Rely yang sempat dilaporkan hilang hampir sebulan.
Sosok di balik hilangnya anggota Polsek Sekotong itu ternyata adalah istrinya sendiri, Briptu Rizka Sintiyani, seorang polwan aktif yang bertugas di Polres Lombok Barat, NTB.
Baca Juga: 20 Menit, Damkar Klungkung Berhasil Lepas Cincin Emas dari Jari Warga
Namun, sebelum kasus ini terkuak ke publik, keluarga korban ternyata telah lebih dulu mencium kejanggalan dari sikap sang istri selama proses pencarian.
Sejak hari pertama Brigadir Esco dinyatakan hilang, sikap Briptu Rizka dinilai dingin dan tidak menunjukkan kepanikan, sebagaimana mestinya seorang istri yang kehilangan pasangan.
Kecurigaan makin kuat ketika keluarga menyadari bahwa Briptu Rizka tidak pernah ikut aktif mencari keberadaan Esco, bahkan terkesan menghindar setiap kali diajak berkoordinasi.
Brigadir Esco terakhir kali terlihat pada Selasa, 19 Agustus 2025, usai berdinas.
Baca Juga: Manajemen GWK Angkat Bicara, Sebut Lakukan Sosialisasi Sebelum Pemagaran
Namun, sejak hari itu pula, komunikasi terputus. Pihak keluarga melaporkan ke polisi, namun upaya pencarian lebih banyak dilakukan oleh keluarga secara mandiri.
Akhirnya, pada Minggu, 24 Agustus 2025, jenazah Esco ditemukan di sebuah kebun tak jauh dari rumahnya di Desa Jembatan Gantung, dalam kondisi mengenaskan dan mulai membusuk.
Saat jasad ditemukan, Briptu Rizka dikabarkan sempat pingsan, namun reaksi tersebut tidak lantas menghapus kecurigaan keluarga.
Penyelidikan yang difokuskan pada orang terdekat akhirnya mengarah kepada Rizka. Dalam gelar perkara yang dilakukan penyidik Polda NTB, Briptu Rizka akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan terhadap suaminya sendiri.
Baca Juga: Petani Menolak Diam, Reforma Agraria di Buleleng Jadi Tuntutan Utama
“Hasil gelar perkara penyidik menetapkan istri korban sebagai tersangka,” terang Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Muhammad Kholid.
Motif di balik pembunuhan ini masih terus didalami. Namun dugaan kuat mengarah pada konflik rumah tangga dan perencanaan pembunuhan yang melibatkan penelantaran jenazah di lokasi sepi.
Kasus ini pun sontak mengguncang institusi kepolisian dan memicu reaksi luas di media sosial.
Editor : Wiwin Meliana