BALIEXPRESS.ID– Politikus PDIP, Ferdinand Hutahaean, angkat suara menyikapi makin tingginya intensitas pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan mantan Presiden Jokowi.
Menurutnya, frekuensi pertemuan itu sudah terlalu sering, bahkan lebih sering dibandingkan dengan pertemuan Prabowo bersama wakilnya, Gibran Rakabuming Raka, sehingga terkesan janggal.
Baca Juga: Dalami Dugaan Penyimpangan Retribusi Pelabuhan Kusamba, Kejari Klungkung Periksa 12 Pejabat
“Aneh Jika Presiden Terlalu Sering Bertemu yang Bukan di Kabinetnya," ungkap Ferdinand.
Ferdinand mengatakan, dari sudut etika dan praktik pemerintahan, seorang mantan Presiden yang sudah tidak menjabat seharusnya tidak sering melakukan pertemuan intens dengan Presiden yang sedang menjabat di luar struktur pemerintahan formal:
“Agak aneh seorang presiden terlalu banyak ketemu, terlalu sering bertemu dengan seseorang yang bukan di jajaran kabinetnya,” ujarnya.
Ia juga membandingkan bahwa pertemuan Prabowo dengan Gibran justru tidak terekspos sebanyak itu:
“Bahkan dengan Gibran pun tampaknya Presiden Prabowo tidak sesering itu bertemu berdua …”
Bagi Ferdinand, kebiasaan pertemuan ini mengindikasikan adanya keterlibatan politik Jokowi meski masa jabatannya sudah berakhir:
“Kita melihat ini bagian dari bentuk cawe‑cawe Jokowi sebetulnya terhadap pemerintahan Pak Prabowo,” ujarnya.
Dia menilai bahwa Jokowi merasa memiliki jasa atas kemenangan Prabowo di Pilpres 2024, sehingga merasa berhak meminta campur tangan dalam arah pemerintahan:
“Jokowi itu saya yakin dia merasa orang yang berjasa terhadap Prabowo menjadi presiden. Maka dia merasa berhak untuk meminta sesuatu, mengintervensi sesuatu,” tegas Ferdinand.
Ferdinand berharap agar ke depannya Jokowi menghentikan sikap terlalu aktif dan memberi ruang bagi Prabowo untuk memimpin secara mandiri:
“Biarkan Pak Prabowo memimpin bangsa ini secara independen, meskipun orang melihat bahwa kemenangan Pak Prabowo itu karena jasa Pak Jokowi.”
Ia menambahkan bahwa meskipun dukungan Jokowi terhadap Prabowo di Pilpres 2024 sangat berpengaruh, mantan presiden tidak boleh terus mendominasi pengambilan kebijakan pemerintah:
“Jokowi harus menahan diri dan tidak lagi ikut campur dalam urusan politik maupun pemerintahan yang kini dijalankan Prabowo. Jangan maruk, serakah gitu lah Jokowinya,” tutupnya.
Editor : Wiwin Meliana