BALIEXPRESS.ID– Penolakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terhadap kehadiran atlet Israel di ajang 53rd Artistic Gymnastics World Championships Jakarta 2025 menuai reaksi beragam dari publik.
Di tengah polemik yang berkembang, pegiat media sosial Jhon Sitorus menyatakan bahwa sikap Pramono mencerminkan konsistensi sikap politik PDIP sejak lama.
Baca Juga: Keluarga Bantah Kabar Mbah Tarman Kabur, Sebut Sedang Bulan Madu di Purwantoro
Jhon menyebut bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah teruji sebagai partai yang tegas dalam menolak kehadiran Israel di berbagai ajang internasional di Indonesia meskipun harus menanggung risiko politik.
“Partai ini sudah teruji dari dulu, konsisten menolak Israel dengan segala risiko politiknya,” tulis Jhon dalam unggahan akun X (sebelumnya Twitter), Sabtu (11/10/2025).
Ia pun mengaitkan sikap Pramono dengan keputusan serupa yang pernah diambil oleh Ganjar Pranowo, saat menjabat Gubernur Jawa Tengah, yang menolak kedatangan tim Israel di ajang Piala Dunia U-20 tahun lalu.
Baca Juga: Begini Respons Gibran Soal Kunjungan Roy Suryo Cs ke Makam Keluarga: Terimakasih Sudah Mendoakan
“Hari ini Mas @pramonoanungw dengan tegas menolak Israel, seperti dulu @ganjar_pranowo menolak Israel di Piala Dunia U-20,” tulis Jhon.
Menurutnya, sikap ini bukan sekadar persoalan mencampuradukkan olahraga dan politik, tetapi menyangkut nilai kemanusiaan, konsistensi sikap, dan amanat konstitusi Indonesia.
Penolakan ini sebelumnya disampaikan langsung oleh Gubernur Pramono Anung dalam pernyataannya di Balai Kota Jakarta, Rabu (8/10/2025). Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengizinkan kehadiran atlet Israel bertanding di Jakarta, karena dikhawatirkan memicu kemarahan publik.
“Yang pertama, tentang atlet Israel kalau ke Jakarta, tentunya sebagai Gubernur Jakarta dalam kondisi seperti ini, saya tidak mengizinkan,” tegasnya.
Pramono bahkan meminta agar pemerintah tidak menerbitkan visa bagi atlet Israel yang rencananya akan bertanding.
“Kalau saya, yang paling penting, visanya enggak usah dikeluarin saja, supaya enggak ke Jakarta,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran atlet Israel tidak membawa manfaat apa pun, apalagi di tengah suasana duka akibat konflik berkepanjangan di Palestina, khususnya Gaza.
Baca Juga: Roy Suryo Cs Ngonten di Makam Keluarga Jokowi, PSI Puji Sikap Gibran Kuasai Ilmu Sabar
“Karena enggak ada manfaatnya dalam kondisi seperti ini ada atlet [Israel], apalagi atlet gimnastik ya,” tambahnya.
Pramono memperingatkan bahwa jika tetap dipaksakan, kehadiran kontingen Israel di Jakarta akan memicu kemarahan publik yang masih memiliki memori kuat terhadap tragedi kemanusiaan di Palestina.
“Kalau ini dipaksakan bertanding di Jakarta, pasti akan membangkitkan kemarahan publik dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB sudah menjadi penegasan sikap resmi pemerintah Indonesia atas situasi di Gaza.
“Pidato Bapak Presiden Prabowo Subianto di PBB sudah jelas. Jadi tidak perlu diterjemahkan lagi,” tegas Pramono.
Sebagai penutup, Pramono meminta pihak-pihak yang berencana mengundang atlet atau kontingen dari Israel agar berpikir seribu kali sebelum mengambil keputusan. Ia menilai hal tersebut hanya akan menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu.
“Saya berharap organisasi yang ingin mengundang harus berpikir seribu kali,” katanya.
“Apa pun yang terjadi di Gaza, memorinya masih melekat kuat di masyarakat kita semua,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana