Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Analis Kemenkes: Program MBG Jadi Intervensi Strategis Pemerintah untuk Penuhi Gizi Masyarakat dan Tekan Stunting

I Putu Suyatra • Rabu, 4 Februari 2026 | 12:28 WIB

MBG
MBG

BALIEXPRESS.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi langkah strategis pemerintah dalam menjawab persoalan gizi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Integrasi MBG dengan potensi pangan lokal serta inisiatif strategis seperti Peternakan Ayam Merah Putih dari Kementerian Pertanian (Kementan) disebut sebagai kunci keberlanjutan fiskal program tersebut.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai sinergi MBG dengan rantai pasok peternakan rakyat dan komoditas pangan lokal mampu menciptakan multiplier effect bagi perekonomian daerah. Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya memastikan pemenuhan standar gizi nasional, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat lokal secara inklusif dan berkelanjutan.

“Program MBG merupakan ide yang revolusioner dan berpotensi besar mendorong ekonomi nasional. Meski demikian, pada tataran implementasi tetap diperlukan evaluasi menyeluruh agar dampaknya bisa maksimal ke depan,” ujar Wijayanto.

Ia menambahkan, pemanfaatan bahan pangan lokal yang mudah diakses, lebih segar, serta memiliki harga relatif stabil akan menjadi fondasi penting keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis.

“Jika implementasi di tingkat daerah dilakukan secara masif, terukur, dan tepat sasaran, peluang keberhasilan MBG dalam mencapai tujuan utamanya akan jauh lebih besar,” jelasnya.

Senada dengan itu, Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Kesehatan, Agus Triwinarto, menegaskan bahwa desain MBG yang kini telah menyasar sekitar 55,1 juta penerima manfaat setiap hari merupakan bentuk intervensi nyata pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

“Dalam rangka mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 sekaligus menurunkan prevalensi stunting, sasaran MBG diperluas. Tidak hanya siswa sekolah, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, serta bayi di bawah dua tahun,” ungkap Agus.

Ia meyakini kombinasi pengawasan keamanan pangan, penerapan higienitas, keragaman pangan lokal bernutrisi, serta ketepatan sasaran program akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

“Dengan meningkatnya keragaman pangan lokal dan terjaminnya keamanan makanan, MBG yang diberikan akan sesuai dengan standar kecukupan gizi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Gizi Kementerian Kesehatan, Yuni Zahraini, menjelaskan bahwa dalam intervensi spesifik pencegahan stunting dan masalah gizi lainnya, terdapat tiga sasaran utama, yakni remaja putri, ibu hamil, dan balita.

“Harapannya melalui MBG, intervensi gizi dapat menggantikan satu kali porsi makan berkualitas setiap hari. Ditopang menu kaya protein hewani, program ini diharapkan mampu saling melengkapi dengan upaya gizi lainnya,” paparnya.

Yuni juga menekankan bahwa MBG seharusnya tidak hanya menjadi pemenuhan janji politik, tetapi berkembang sebagai program unggulan nasional yang berdampak nyata dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045.

“Keberhasilan MBG sangat bergantung pada keberanian pemerintah melakukan evaluasi tata kelola hingga ke tingkat implementasi,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#Mbg