BALIEXPRESS.ID — Kemunculan film The Pig Feast atau Pesta Babi menuai sorotan karena dinilai memuat unsur provokatif yang berpotensi memicu ketegangan sosial. Konten film tersebut muncul di tengah upaya pemerintah yang sedang gencar memperkuat pembangunan serta ketahanan pangan di Papua.
Sejumlah pihak menilai narasi sensitif yang ditampilkan dalam film tersebut berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap kondisi sosial di Papua. Padahal, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah tengah fokus mengembangkan sektor strategis, khususnya pertanian, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah timur Indonesia itu.
Salah satu program yang saat ini diprioritaskan adalah pengembangan cetak sawah skala besar sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan daerah. Pemerintah Provinsi Papua bersama pemerintah pusat mendorong perluasan lahan pertanian guna meningkatkan produksi beras sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri bahkan meninjau langsung proyek cetak sawah seluas 13.200 hektare di kawasan Arso Swakarsa, Kabupaten Keerom. Program tersebut diharapkan mampu memperkuat produksi pangan lokal dan mendorong Papua menuju swasembada beras.
“Keerom ini sangat pas dan cocok untuk kita lakukan cetak sawah. Bukan hanya sawahnya, tetapi juga akan kita bangun irigasi, jalan produksi, sampai dengan fasilitas pendukung produksi beras,” kata Fakhiri.
Menurutnya, pengembangan sektor pertanian di Papua tidak hanya berfokus pada pembukaan lahan baru, tetapi juga membangun ekosistem pertanian terpadu, mulai dari irigasi, jalan produksi, hingga fasilitas pascapanen yang akan meningkatkan efisiensi distribusi hasil panen.
Pemerintah Provinsi Papua bahkan menargetkan pengembangan sawah secara bertahap hingga 30.000 hektare, dengan potensi perluasan mencapai 50.000 hektare apabila mendapatkan dukungan kebijakan tambahan dari pemerintah pusat. Target tersebut diharapkan mampu menjadikan Papua sebagai lumbung pangan baru di kawasan timur Indonesia.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Pangan Provinsi Papua Lunanka V. M. L. Daimboa menegaskan bahwa program cetak sawah merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi kedaulatan pangan daerah.
“Penguatan sektor pertanian pangan merupakan fondasi penting bagi pembangunan Papua ke depan. Oleh sebab itu, Bumi Cenderawasih diarahkan untuk maju dalam swasembada pangan, bahkan menuju kedaulatan pangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi beras lokal juga akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar kawasan pertanian. Berkembangnya sektor ini diperkirakan dapat menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
Pemerintah optimistis, dengan dukungan infrastruktur pertanian serta keterlibatan masyarakat, Papua dapat mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar daerah dan memperkuat stabilitas ekonomi lokal.
Di tengah berbagai upaya pembangunan tersebut, kemunculan film The Pig Feast yang dianggap provokatif dikhawatirkan dapat mengaburkan narasi pembangunan yang tengah berjalan di Papua. Karena itu, sejumlah pihak menekankan pentingnya karya kreatif yang tetap sensitif terhadap kondisi sosial serta tidak memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Pemerintah daerah sendiri menegaskan bahwa fokus utama saat ini tetap pada penguatan sektor strategis, khususnya pertanian dan ketahanan pangan, sebagai fondasi bagi masa depan Papua yang lebih mandiri dan sejahtera. ***
Editor : I Putu Suyatra