BALIEXPRESS.ID – Pemerintah memperkuat pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melibatkan pihak sekolah dalam proses pemantauan pelaksanaan di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas layanan MBG sekaligus mempercepat penanganan berbagai keluhan yang muncul selama program berjalan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, meminta sekolah untuk aktif mengawasi jalannya Program Makan Bergizi Gratis. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam memastikan makanan yang diberikan kepada siswa sesuai standar gizi, kualitas, dan ketepatan distribusi.
Zulhas juga mengimbau sekolah agar tidak ragu menyampaikan keluhan jika menemukan layanan MBG yang tidak sesuai standar, baik melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun fasilitas pengaduan yang disediakan pemerintah.
“Kami juga mengimbau kalau sekolah-sekolah di mana pun berada, kalau ada yang tidak sesuai bisa menyampaikan keberatan kepada SPPG. Menyampaikan keberatan sekali, dua kali, tiga kali. Pasti di sini ada namanya call center, di kantor saya ada namanya command center. Jadi kita akan cepat untuk menindaklanuti,” kata Zulhas.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa sekolah dilibatkan dalam pengawasan mulai dari kualitas makanan, ketepatan distribusi, hingga pelaporan kendala operasional. Ia menilai sekolah menjadi mitra strategis dalam memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai standar.
“Sekolah memiliki posisi penting untuk memberikan masukan langsung terkait pelaksanaan program,” ujarnya.
Dadan menambahkan, pemerintah juga membuka jalur pelaporan yang lebih cepat agar setiap aduan terkait MBG dapat segera ditindaklanjuti. Sistem evaluasi berbasis laporan lapangan dinilai mampu meningkatkan kualitas layanan secara berkelanjutan.
“Kami ingin setiap keluhan ditangani cepat agar kualitas program tetap terjaga,” katanya.
Selain itu, keterlibatan guru dan tenaga kependidikan dinilai penting untuk memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis berlangsung tertib dan sesuai kebutuhan siswa. Pengawasan langsung dari lingkungan sekolah diharapkan mampu mendeteksi kendala sejak dini sekaligus mempercepat koordinasi dengan pihak pelaksana.
Partisipasi sekolah juga menjadi sarana evaluasi yang lebih objektif karena pihak pendidik dapat memantau respons siswa terhadap menu makanan, kualitas gizi, hingga ketepatan distribusi harian. Masukan dari sekolah akan menjadi bahan evaluasi berkelanjutan agar program semakin efektif dan tepat sasaran bagi para penerima manfaat.
Melalui keterlibatan sekolah dan penguatan sistem pengawasan, pemerintah optimistis Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, transparan, dan responsif. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan program MBG tidak hanya menjangkau lebih banyak siswa, tetapi juga tetap terjaga kualitas dan akuntabilitasnya.
Editor : I Putu Suyatra