BALIEXPRESS.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mampu menjadi instrumen pemerataan sosial yang dapat mengurangi hingga menghapus kesenjangan antar siswa di lingkungan sekolah. Program ini dianggap menghadirkan kesetaraan karena seluruh siswa memperoleh akses makanan yang sama tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
Guru Besar Universitas Tadulako (Untad) Palu, Nur Sangadji mengatakan, program MBG membawa dampak psikologis positif bagi para pelajar karena mampu memperkuat rasa kebersamaan dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif.
Hal tersebut disampaikan Nur Sangadji saat ditemui awak media di Palu, Sulawesi Tengah.
Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis dapat membuat siswa dari keluarga kaya maupun kurang mampu merasa setara saat berada di sekolah.
“Kalau kita kasih semua, akan ada dampak psikologis yang baik. Karena tidak ada yang merasa lebih kaya dan tidak ada yang merasa lebih miskin,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemberian MBG kepada seluruh siswa merupakan langkah tepat untuk membangun rasa persamaan di lingkungan pendidikan. Pernyataan itu disampaikan menanggapi kritik yang menyebut program sebaiknya hanya diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu atau jenjang pendidikan tertentu saja.
“Program ini menunjukkan adanya kesamaan dan kesetaraan saat mereka bersama-sama makan dengan makanan yang sama dan dari omprengan yang sama,” tuturnya.
Nur Sangadji menambahkan, program makan gratis bagi siswa juga telah diterapkan di berbagai negara seperti Brasil, Prancis, India, Jepang, hingga China. Bahkan di China, pemerintah juga melengkapi program makan siang gratis dengan program tidur siang untuk siswa.
Sementara itu, anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, turut menilai Program MBG sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus menghapus kesenjangan sosial di sekolah.
Menurutnya, seluruh siswa berhak mendapatkan asupan gizi seimbang tanpa membedakan kondisi ekonomi keluarga.
“Generasi ini diharapkan menjadi cerdas, energik, produktif, dan mampu bersaing dengan generasi muda di seluruh dunia. Indonesia punya peluang besar untuk itu,” ucapnya.
Di sisi lain, PIC MBG SMA 6 Palu, Mohammad Ikra, menyebut program tersebut mendapat sambutan positif dari para siswa.
“Program ini sangat positif dan bisa dikatakan sangat diharapkan para peserta didik,” katanya.
Ia menjelaskan mayoritas siswa di SMA 6 Palu berasal dari keluarga menengah ke bawah. Saat ini terdapat sekitar 800 siswa penerima manfaat Program MBG di sekolah tersebut.
“Tingginya antusias siswa karena faktor perekonomian keluarga yang sangat terbatas. Bahkan beberapa anak tidak memiliki uang jajan untuk makan siang sehingga program MBG sangat bermanfaat sekali,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra