BALIEXPRESS.ID – Sektor maritim Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai paradigma pembangunan nasional berbasis riset, teknologi, dan inovasi. Penguatan sektor kelautan dianggap penting di tengah tantangan global seperti ketahanan pangan, energi, kesehatan, lingkungan, hingga dinamika geopolitik dunia.
Hal tersebut mengemuka dalam National Policy Dialogue bertajuk “Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia” yang digelar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Forum tersebut menyoroti bahwa kekayaan hayati laut Indonesia memiliki potensi besar sebagai sumber ekonomi sekaligus basis pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan, khususnya dalam penguatan ekonomi biru (blue economy).
UGM Dorong Riset Kelautan Berbasis Inovasi
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, menegaskan bahwa kekayaan biodiversitas laut Indonesia tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pengembangan sains dan teknologi.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan besar mulai dari biodiversity, geodiversity, hingga cultural diversity yang mencakup ekosistem pesisir dan laut yang sangat kaya.
UGM saat ini mengembangkan berbagai riset kelautan, mulai dari bioprospeksi laut, senyawa bioaktif, hingga pemanfaatan mikroalga untuk biofuel, bioremediasi, kosmetik, dan farmasi. Riset tersebut diarahkan untuk mendukung transisi energi, kesehatan lingkungan, serta penguatan ekonomi biru Indonesia.
“Pengembangan kajian kelautan di UGM tidak lagi hanya berfokus pada inventarisasi spesies, tetapi sudah berkembang ke pendekatan genomik, bioinformatika, hingga environmental DNA,” jelasnya.
BRIN Dorong Penguatan Riset dan Integrasi Pengetahuan Lokal
Dari sisi kelembagaan riset, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya penguatan kapasitas riset oseanografi dan biodiversitas laut Indonesia agar mampu memperkuat posisi Indonesia dalam isu global terkait sumber daya laut.
Kepala BRIN, Arif Satria, juga menyoroti pentingnya integrasi antara pengetahuan lokal masyarakat pesisir dengan ilmu pengetahuan modern.
“Masyarakat pesisir memiliki pengalaman empiris yang sangat penting karena hidup dan berinteraksi langsung dengan laut setiap hari. Ini harus bersinergi dengan sains modern,” ujarnya.
Hilirisasi Riset Jadi Kunci Kedaulatan Maritim
Rektor UGM, Ova Emilia, menekankan bahwa hilirisasi riset dan inovasi kelautan menjadi kunci dalam memperkuat kedaulatan maritim Indonesia.
Menurutnya, kekayaan biodiversitas laut tidak hanya sebagai aset alam, tetapi juga sumber pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.
“Pengembangan ekosistem riset dan inovasi kelautan yang terintegrasi sangat penting untuk mendukung hilirisasi hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan perguruan tinggi yang kerap menghadapi kendala dalam membawa hasil riset dari laboratorium ke implementasi nyata. Karena itu, BRIN diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung antara akademisi, pemerintah, dan industri.
UGM menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis dalam pengembangan sektor maritim yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing global melalui penguatan ekonomi biru Indonesia.
Editor : I Putu Suyatra