Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Hilirisasi di Papua Terus Diperkuat untuk Dorong Ekonomi Daerah dan Ciptakan Nilai Tambah

I Putu Suyatra • Selasa, 23 Juni 2026 | 10:13 WIB
Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk (IST)
Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk (IST) 

BALIEXPRESS.ID – Program hilirisasi di Papua terus diperkuat pemerintah sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperluas peluang ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat. Melalui strategi ini, Papua diharapkan tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi juga mampu mengembangkan industri pengolahan yang memberikan manfaat lebih besar bagi daerah.

Penguatan hilirisasi Papua menjadi bagian dari pembangunan berbasis potensi lokal yang mengintegrasikan proses produksi dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Tanah Papua.

Dalam kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming di Papua Barat, pemerintah kembali menegaskan pentingnya optimalisasi Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua agar memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan industri berbasis komoditas unggulan yang terintegrasi dengan proses hilirisasi.

Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk mengatakan implementasi Dana Otsus semakin menunjukkan hasil positif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui penguatan sektor-sektor produktif yang melibatkan masyarakat secara langsung.

“Ini adalah hasil dari implementasi Dana Otsus yang baik. Tetapi yang paling penting bukan hanya pembangunan fisik yang terlihat, melainkan bagaimana hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat di kampung-kampung, termasuk peningkatan pendapatan, pembukaan lapangan kerja, serta tumbuhnya aktivitas ekonomi baru di tingkat lokal,” ujar Ribka Haluk.

Menurutnya, hilirisasi di Papua menjadi langkah strategis agar komoditas lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diproses menjadi produk bernilai tambah. Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat dinikmati masyarakat Papua dan berkontribusi pada penguatan ekonomi daerah.

Sementara itu, Penanggung Jawab Sekolah Lapang Sagu Keuskupan Agats, Anton, menjelaskan bahwa pengembangan hilirisasi berbasis komunitas menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ekonomi lokal sekaligus menjaga nilai budaya masyarakat.

“Yang di sini lebih ke memperkuat aspek lokal. Jadi, kalau yang di Meranti itu teknologi industri sagu untuk skala besar. Yang di sini skala lokal, lebih banyak pendekatan budaya. Sekaligus mengembangkan hilirisasinya,” kata Anton.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri di Papua dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Selain meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal, model ini juga mendukung pelestarian budaya dan keberlanjutan sosial masyarakat setempat.

Dukungan terhadap percepatan hilirisasi juga disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, pemerintah terus mengakselerasi program pengembangan komoditas perkebunan rakyat yang terintegrasi dengan industri pengolahan untuk memperkuat perekonomian Papua.

“Tahun ini Rp3,2 triliun, tahun lalu Rp2 triliun. Totalnya Rp5,5 triliun lebih. Kami laporkan kepada Bapak Presiden dan beliau mengatakan bantuan ini dilanjutkan,” ujar Andi Amran Sulaiman.

Ia menambahkan seluruh kabupaten di Papua terlibat dalam program pengembangan komoditas strategis yang mencakup peningkatan produksi hingga hilirisasi dengan cakupan lahan ratusan ribu hektare.

Melalui penguatan kebijakan tersebut, hilirisasi di Papua diyakini mampu membuka peluang investasi, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Transformasi menuju industri berbasis nilai tambah diharapkan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Papua yang lebih merata, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Editor : I Putu Suyatra
#Ribka Haluk #papua