BALIEXPRESS.ID — Ekonomi syariah Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif di tingkat global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa nilai kekuatan ekonomi syariah nasional kini telah menembus Rp3.131,02 triliun.
Capaian fantastis ini berhasil menempatkan Indonesia di posisi empat besar dunia dalam peta ekonomi berbasis syariah global.
"Kekuatan ekonomi syariah kita sudah menembus Rp3.131,02 triliun, dan ini masuk dalam ranking 4 di global syariah," ujar Airlangga.
Pertumbuhan pesat ini membuktikan bahwa potensi ekonomi syariah di Indonesia tidak hanya didorong oleh sektor keuangan, tetapi juga mencakup ekosistem industri halal, pembiayaan produktif, produk konsumsi halal, fashion muslim, hingga keuangan sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF).
Indonesia Rajai Industri Halal Dunia dan Ekspor Fashion Muslim
Selain unggul dari segi nilai ekonomi, Indonesia juga berhasil menjadi produsen nomor satu dunia untuk produk halal, terutama pada sektor fashion dan busana muslim.
Untuk menopang kekuatan tersebut, ekosistem sertifikasi halal nasional terus diakselerasi. Hingga saat ini, pemerintah telah menerbitkan sebanyak 4,4 juta sertifikat halal.
"Tentu dengan jumlah UMKM yang besar, ini diharapkan bisa terus diakselerasi," tambah Airlangga.
Perluas Akses Pasar Global via Kerja Sama Internasional
Guna mendorong ekspansi ekspor dan impor produk halal UMKM ke mancanegara, pemerintah Indonesia telah menjalin kesepakatan Mutual Recognition Arrangement/Agreement (MRA) dengan 39 negara. Langkah strategis ini membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk menembus pasar internasional secara lebih mudah.
Di sektor pembiayaan domestic, pemerintah berfokus pada:
-
Akselerasi KUR Syariah untuk mendukung modal kerja para pelaku UMKM.
-
Penguatan Perbankan Syariah demi mendorong pembiayaan sektor produktif.
-
Optimalisasi Keuangan Sosial (ZISWAF) melalui kolaborasi lintas lembaga.
Kinerja Perbankan Syariah: Pembiayaan Tumbuh Solid 11,82 Persen
Perkembangan positif sektor ini juga tecermin dari kinerja perbankan syariah yang kian solid. Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hernawan Bekti Sasongko, mencatat pertumbuhan signifikan pada penyaluran dana syariah.
Per Juli 2026, pembiayaan perbankan syariah berhasil tumbuh 11,82 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan total pembiayaan mencapai Rp744,51 triliun. Sementara itu, piutang pembiayaan syariah turut tumbuh sebesar 8,84 persen (yoy).
"Per Juli 2026, pembiayaan perbankan syariah tumbuh solid 11,82 persen (yoy), dan piutang pembiayaan syariah tumbuh 8,84 persen (yoy)," jelas Hernawan.
Tak hanya pembiayaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan syariah juga mencatatkan angka impresif mencapai Rp837,24 triliun atau melonjak 11,92 persen (yoy).
Dengan kombinasi industri halal yang kuat, dukungan perbankan syariah, serta akselerasi UMKM, ekonomi syariah diproyeksikan akan terus menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.