Presiden Prabowo Pangkas Beban Produksi Petani demi Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

I Putu Suyatra • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 16:44 WIB

Presiden Prabowo Subianto (IST)

Presiden Prabowo Subianto (IST)

 BALIEXPRESS.ID – Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat dukungan terhadap sektor pertanian nasional. Melalui serangkaian kebijakan strategis—mulai dari penurunan harga pupuk subsidi hingga program pompanisasi—pemerintah berkomitmen memangkas beban biaya produksi petani sekaligus menjaga produktivitas lahan di seluruh Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkokoh ketahanan pangan dan mempercepat capaian swasembada pangan nasional.

Potong 145 Aturan dan Turunkan Harga Pupuk Subsidi 20 Persen

Dalam upaya mempermudah akses sarana produksi bagi petani, pemerintah resmi menghapus 145 aturan birokrasi penyaluran pupuk yang selama ini dinilai berbelit-belit. Tak hanya itu, harga pupuk subsidi juga dipangkas hingga 20 persen.

"145 aturan penyaluran pupuk telah kita hilangkan. Harga pupuk berhasil kita turunkan 20 persen. Hal ini terjadi pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia," tegas Presiden Prabowo.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, menambahkan bahwa pemerintah juga melipatgandakan kuota pupuk subsidi dan menerapkan sistem penebusan digital agar tepat sasaran:

  • Kuota Pupuk Subsidi: Ditingkatkan menjadi 9,5 juta ton.

  • Harga Pupuk Urea Subsidi: Turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800/kg.

  • Harga Pupuk NPK Subsidi: Turun dari Rp2.300 menjadi Rp1.840/kg.

  • Sistem Penebusan: Disederhanakan menggunakan platform digital.

Capaian Swasembada 8 Komoditas Pangan Utama

Penyederhanaan distribusi pupuk turut mendorong peningkatan hasil panen secara signifikan. Pemerintah mencatat Indonesia telah berhasil mencapai swasembada untuk 8 komoditas pangan penting:

  1. Beras

  2. Jagung

  3. Gula konsumsi

  4. Daging ayam

  5. Telur ayam

  6. Bawang merah

  7. Cabai besar

  8. Cabai rawit

Bantuan Pompanisasi Hibrida Antisipasi Kekeringan Lahan

Selain masalah pupuk, pemerintah mengintervensi ancaman kekeringan di area persawahan melalui program pemanfaatan pompa air berbasis teknologi hijau.

Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bantuan pompa hibrida berbasis panel surya dan listrik berhasil menyelamatkan sekitar 390 hektare sawah di Kecamatan Arjawinangun dan Susukan dari ancaman gagal panen pada musim tanam kedua.

Pompa hibrida ini mampu mengalirkan air hingga 36 ribu liter per jam. Pada siang hari, pompa mengandalkan tenaga surya, sementara pada malam hari memanfaatkan jaringan listrik sehingga jauh lebih efisien memangkas biaya pengairan.

"Sekarang, dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, pompanisasi hibrida ini alhamdulillah bisa menghasilkan air yang begitu deras," ujar Mashudi, salah satu petani asal Cirebon.

Melalui integrasi efisiensi pupuk dan modernisasi pengairan, rangkaian kebijakan ini diharapkan menjadi benteng kokoh bagi ketahanan pangan Indonesia di tengah ketidakpastian iklim global.

Editor : I Putu Suyatra
petani Prabowo Subianto