BALI EXPRESS, KAPAL - Lukisan adalah salah satu karya seni yang digandrungi masyarakat Bali. Selama ini banyak pelukis terkenal yang lahir di Pulau Dewata. Pun kebanyakan yang dikenal adalah pelukis dari daerah Gianyar. Namun demikian, ternyata banyak pula pelukis yang lahir di kabupaten lainnya. Salah satunya adalah putra Badung, I Wayan Beratha Yasa, 73.
Wajah-wajah ceria terpampang pada sejumlah orang dengan pakaian adat Bali, Minggu (23/7) kemarin. Mereka berjejer di sebuah gang di Banjar Langon, Desa Kapal, Mengwi, Badung untuk menyambut sejumlah tamu yang datang.
Masuk sekitar 10 meter, di depan sebuah rumah yang khas dengan arsitektur Bali, telah terpasang tenda kecil yang memuat sekitar 40 orang. Rumah tersebut adalah milik pelukis, I Wayan Beratha Yasa. Ada sebuah tulisan besar tertera pada sebuah spanduk berbahan karung plastik. Kalimatnya cukup menarik, 'Seni itu Lestari; Hidup itu singkat. Saya orang Bali pelukis, melukis yang Bali' yang ditulis dengan car warna hitam.
Sementara di bawah tenda, selain warga sekitar, sejumlah pejabat tampak hadir. Di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Ida Bagus Anom Bhasma, Ketua PHRI Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati atau yang biasa disapa Cok Ace, pengamat seni, I Ketut Lanus Sumatra, dan lainnya. Mereka tampak mengobrolkan sesuatu hingga pembawa acara menyatakan acara segera dimulai.
Singkat cerita, I Wayan Beratha Yasa selaku penyelenggara acara disilakan menyampaikan sambutan. Pria lanjut usia dengan rambut gondrong memutih tersebut maju dengan perlahan. Setelah menyapa hadirin, ia pun menyampaikan berbagai hal tentang kegiatan pameran lukisan yang bertema 'Pelestarian Alam Spiritual dan Seni Tari Bali' tersebut.
"Melalui karya seni lukisan bermaksud ikut memelihara serta melestarikan alam lingkungan seperti jangan sembarangan menebang pohon," ungkapnya.
Dikatakannya, sejumlah pohon dalam lukisan dibalut dengan saput poleng (kain warna warni). Saput poleng dalam hal ini terdiri dari warna, yakni hitam, putih, dan abu-abu. "Di Bali saput poleng menandakan kesakralan. Pohon dibalut saput poleng berarti menandakan pohon tersebut disakralkan," paparnya.
Lebih lanjut, pria yang sudah memiliki cucu tersebut, melalui lukisan dirinya ingin mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan tempat suci seperti pura, danau, alam pegunungan. Ia menekankan, alam harus dijaga dan diharmoniskan. Apalagi Hindu memiliki konsep mengharmoniskan hubungan manusia melalui Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta manusia dengan alam lingkungan.
"Lewat lukisan ini saya juga ingin ikut melestarikan, mempertahankan, serta mengembangkan seni tari Bali," tambahnya.
Tak hanya itu, Beratha Yasa yang setia dengan aliran realis ini berharap, melalui seni lukis dirinya bisa ikut memperkenalkan dan mengembangkan pariwisata daerah, terutama daerah Bali, Badung, dan khususnya Desa Kapal. "Apalagi Desa Kapal tercatat sebagai Desa Wisata. Dari Desa Kapal, saya ingin ikut memperkenalkan objek-objek wisata yang ada di Bali," terangnya.
Lebih lanjut, seniman yang telah menyandang penghargaan berupa piagam seni dari Gubernur Bali tahun 2007 dan Bupati Badung tahun 1998, ini mengaku jengah. Oleh karena itu, ia terus berkarya, berusaha menumpahkan setiap ide melalui tarian kuasnya pada kanvas tanpa memikirkan rentang usia.
"Yang tidak kalah penting, saya juga ingin memberi contoh yang positif kepada anak cucu bahwa meski saya sudah tua, yakni lahir 10 Februari tahun 1944, namun saya tetap beraktivitas. Istilahnya lansia dari den bukit. Meskipun lanjut usia, tetap bangkit," ujarnya yang disambut tepuk tangan hadirin.
Sementara itu, Kadisbud, IB Anom Bhasma yang mewakili Bupati Badung untuk membuka acara memberikan pujian sekaligus apresiasi atas terselenggaranya pameran lukisan karya I Wayan Beratha Yasa yang disebutnya sebagai seorang maestro seni lukis. Yang membanggakan baginya, kendati sudah tak lagi muda I Wayan Beratha Yasa masih berkarya. Apresiasi juga diberikan oleh seniman-seniman muda lainnya yang turut menghadiri pameran lukisan, seperti kepada Nyoman Suyasa yang merupakan anak kandung sang maestro.
“Saya melihat Beliau (I Wayan Beratha Yasa) konsisten dalam melukis. Beliau itu sangat peduli dengan lingkungan, saya kenal betul dengan Beliau. Ayah saya juga dulu seorang pelukis. Jadi ada kesan tersendiri,” ungkapnya.
Dikatakan Anom Bhasma, pemerintah saat ini sangat mengapresiasi kegiatan seni dan budaya. Seperti yang selalu bupati sampaikan, sebutnya, Pemerintah Kabupaten Badung memprioritaskan pembangunan pada lima sektor unggulan. Sektor tersebut mencakup pangan sandang dan papan, pendidika dan kesehatan, jaminan sosial dan tenaga kerja, agama adat seni dan budaya, serta pariwisata. “Bapak bupati telah memerintahkan kepada saya untuk memperhatikan seniman, memberikan prioritas kepada kebudayaan termasuk di dalamnya para seniman,” kata pejabat asal Desa Taman, Abiansemal itu.
Sebagai wujud perhatian pemerintah, ungkapnya, pemerintah berencana menjadikan gedung pemuda budaya, yang saat ini tengah dipersiapkan pembangunannya, memiliki ruang khusus untuk pameran lukisan, sekaligus memiliki ruang untuk demo melukis. “Harapan kami para tamu yang beruknjung ke Badung bisa melihat bagaimana kekayaan Badung terutama para pelukis. Begitu juga patung dari JAS (Jagapati, Angantaka, Sedang) bisa kita pamerkan di sana. Kami berharap Badung nanti tidak saja dikenal Kuta-nya tapi juga karya seninya,” paparnya.
Acara tersebut dibuka secara simbolis dengan pengguntingan pita oleh Anom Bhasma. Selanjutnya hadirin dipandu Beratha Yasa diajak melihat ratusan lukisan karyanya yang dipajang di halaman rumahnya. Rata-rata adalah lukisan alam dan pura. "Meski banyak yang menyebut aliran realis sudah kuno karena kecanggihan teknologi fotografi saat ini, namun saya ingin tetap melestarikannya," ungkap Beratha.
Menariknya lagi, untuk membuat sejumlah lukisan tersebut, Beratha Yasa rela keliling Bali menaiki sepeda motor vespa miliknya, guna mempotret pura dan alam. Foto tersebut kemudian baru dilukis dengan sangat detail. "Saya menaiki sepeda motor keliling untuk mendapat pemandangan yang bagus. Setelah itu baru saya lukis," tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra