Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Warung Nasi Men Tinggen, Destinasi Kuliner Malam

I Putu Suyatra • Rabu, 16 Agustus 2017 | 18:15 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bagi para pelancong, berwisata kuliner di malam hari sangat mengasyikkan. Dijamin bakal member pengalaman baru. Sejatinya, tak cuma pelancong atau wisatawan, berburu ragam kuliner di malam hari juga banyak dilakoni warga kota.


Berkeliling Kota Denpasar di malam hari, ragam kulinernya tampak lebih banyak dibanding siang hari. Sangat banyak pilihannya. Tentukan saja sesuai selera. Namun, bagi penggemar nasi campur bali atau yang sekadar ingin mencicipi masakan khas Bali, Warung Nasi Men Tinggen layak dijajal.


Warung nasi ini berlokasi di Jalan Pejang Sari, tepatnya di Pasar Intaran, Sanur. Ini menjadi salah satu destinasi kuliner malam yang wajib dicoba oleh wisatawan ataupun masyarakat lokal. Sejatinya, dari segi tempat tidak ada yang terlalu istimewa. Namun, warung ini patut dicoba karena cita rasa masakannya. Ya, Warung Nasi Men Tinggen menyajikan menu makanan tradisional Bali dengan rasa yang otentik. Seperti apa?


Ketut Mariartha, owner dari Warung Nasi Men Tinggen ketika ditemui Senin (14/8) mengakui jika Warung Nasi Men Tinggen ini memang lebih dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner malam. “Meskipun kami buka sore hari, tapi pelanggan tetap saja ramai datang di malam hari, ini karena Warung Men Tinggen sudah identik dengan kuliner malam,” jelasnya.


Mangku Mariatha mengakui jika Warung Nasi Men Tinggen yang merupakan warisan dari sang ibu sekitar tahun 1970-an silam memang merupakan salah satu warung nasi yang cukup dikenal di wilayah Sanur dan sekitarnya. Pada awalnya warung nasi ini hanya buka pada pagi hingga siang hari, yakni hanya melayani pembeli yang berbelanja di pasar Intaran saja.


Namun saat itu dikatakan Mangku Mariatha Warung Men Tinggen belum menjual olahan daging babi seperti saat ini. “Waktu tahun 1970-an silam, warung nasi kami masih menjual nasi dengan daging penyu, karena saat itu daging penyu masih diperbolehkan untuk dikonsumsi,” ungkapnya.


Setelah tahun 1980-an, daging penyu dilarang untuk dikonsumsi massal dan diperjualbelikan, maka warung nasi ini tidak lagi menjual daging penyu dan mengalihkan menunya menjadi daging babi dan daging ayam.


Saat itu, warung nasi ini masih berjualan pagi hingga siang hari, karena memang saat itu diakui Mangku Mariatha sang ibu hanya menyasar pelanggan yang datang ke pasar Intaran. “Namun demikian, para pelanggan yang datang tidak saja berasal dari kalangan ibu-ibu yang berbelanja ke pasar, tapi dari seluruh kalangan baik itu anak muda ataupun para pekerja yang sedang tugas malam,” lanjutnya.


Karena para pelanggan yang datang cukup banyak dan sebagian besar adalah anak muda yang dikatakan Mangku Mariatha lebih suka nongkrong malam hingga pagi, maka pada tahun 2008, warung Men Tinggen yang sebelumnya ada di sisi timur pasar, pindah ke sisi barat pasar.


Setelah pindah ini, Warung Men Tinggen pun mengalami sedikit perubahan, yang sebelumnya tidak memiliki space untuk makan, setelah pindah, warung ini kemudian dibuat dengan konsep yang lebih modern.


Untuk menunya sendiri, dalam satu porsi Nasi Men Tinggen pelanggan bisa menikmati beragam jenis lauk. Mulai dari lawar babi, be nyuh yang terbuat dari campuran kelapa dan daging babi, be manis (daging babi goreng yang dibumbui dnegan citarasa manis), sayur urap, ayam kalasan dan abon ayam serta abon babi.


Meskipun sudah dihidangkan dengan konsep yang lebih modern, namun Warung Nasi Men Tinggen ini masih tetap mempertahankan cita rasa masakan aslinya. Yakni seluruh makanan dimasak dengan metode yang sama dengan menu aslinya baik dari bumbu dan cara memasaknya.


Selain itu ada beberapa jenis lauk yang sengaja dipertahankan sejak awal yakni be manis. “Namun bedanya saat ini adalah be manis ini dibuat dari daging babi sedangkan dulu dari daging penyu, namun untuk bumbu dan cara memasaknya tetap sama, yakni daging babi yang direndam dengan bumbu yang kemudian digoreng kering,” paparnya.


Untuk satu porsi nasi campur, baik itu campur ayam dan babi atau ayam saja atau babi saja, Warung Men Tinggen mematok harga yang sama yakni Rp 20 ribu dan untuk minumannya baik itu soft drink, air mineral dan minuman hangat dijual dengan harga Rp 5 ribu.


Untuk harga ini dikatakan Mariatha memang dipatok Rp 25 ribu untuk satu porsi makanan dan minuman, hal tersebut karena para pelanggannya sebagian berasal dari kalangan anak muda. “Kami tidak patok harga mahal, karena pelanggan sebagian besar adalah anak muda,” tambahnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#denpasar