BALI EXPRESS, SINGARAJA - Kabupaten Buleleng kembali menambah koleksi museum. Setelah Museum Buleleng dan Gedong Kirtya, kali ini Museum Soenda Ketjil mulai dibuka untuk umum, Selasa (13/3) lalu. Tentu, dibukanya museum yang berlokasi di areal eks Pelabuhan Buleleng ini, menjadi ikon untuk destinasi wisata kota tua di Singaraja.
Di Masa lalu, sekitar tahun 1882, Singaraja pernah menjadi ibukota residen Bali Lombok. Selanjutnya sekitar tahun 1945, kemudian berubah menjadi Ibukota Provinsi Sunda Kecil dengan Gubernur yang pertama dan terakhr adalah Mr. I Gusti Ketut Pudja.
Seperti tertuang dalam catatan sejarah, Provinsi Soenda Ketjil adalah kejayaan Indonesia Timur di masa lalu. Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, bahkan sebagian pulau-pulau terkecil di wilayah perairan Kepulauan Maluku adalah bagian dari Soenda Ketjil.
Museum ini menggunakan bangunan berarsitektur Belanda yang telah berumur lebih dari 50 tahun. Konon, gedung ini dibangun pada tahun 1920 dan dulunya digunakan sebagai salah satu kantor di area Pelabuhan Buleleng, ketika pelabuhan masih aktif sebagai pelabuhan bongkar muat saat masa penjajahan. Tak pelak, keberadaan museum ini akan menjadi nonstalgia untuk mengenang Buleleng sebagai Ibu Kota Soenda Ketjil.
Ketika memasuki museum, perhatian pengunjung akan tertuju pada dinding tembok yang penuh dokumentasi masa lampau. Di mana dokumentasi itu menggambarkan bagaimana pentingnya Pelabuhan Buleleng sebagai pelabuhan rakyat. Kala itu, Pelabuhan Buleleng disebut masuk dalam peta pelabuhan dan pelayaran dunia. Sehingga, banyak terjadi bongkar muat barang dari pengiriman barang oleh kapal-kapal laut dari luar negeri seperti India, Arab, bahkan Cina.
Selain menggambarkan Soenda Ketjil dan Pelabuhan Buleleng sebelum dan sesudah kemerdekaan, sejumlah barang bersejarah milik pahlawan Mr. I Gusti Ketut Pudja juga turut dipajang di museum ini. Sebut saja seperti topi dan kamera tua milik Gubernur pertama dan terakhir Ibu Kota Soenda Ketjil ini. Bahkan, foto dan profil Mr. I Gusti Ketut Pudja juga terpampang jelas di dinding museum ini. Selain itu, ada foto sosok Presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno. Foto Bung Karno bersama sang Ibu Ida Ayu Nyoman Rai Srimben juga dipajang di museum ini. Pemajangan bukanlah tanpa alasan. Mengingat Ibu dari Sang Proklamator ini berasal dari Buleleng, tepatnya Banjar Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng.
Rupanya, konten museum ini tak melulu berbicara tentang sejarah. Buktinya, di lokasi ini juga dilengkapi dengan spot selfie menyerupai perahu. Pasti pengunjung tak akan melewatkan berselfie di spot dengan latar perahu Phinisi di Pelabuhan Buleleng.
Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Nyoman Sutrisna, menilai pendirian Museum Soenda Ketjil ini diharapkan mampu mendongkrak wisatawan datang ke Buleleng. Bahkan, Museum Soenda Ketjil akan menunjang wisata sejarah di kota tua Singaraja. “Kami optimis, pendirian museum ini bisa mendongkrak kunjungan wisatawan mancanegara. Nanti akan menjadi destinasi City Tour di Kota Singaraja. Artinya, adanya penambahan destinasi baru ini membuat turis asing dan domestik kian tertarik berkunjung ke Buleleng” kata Sutrisna.
Menurutnya, pembangunan museum Soenda Ketjil ini dijadikan sebagai wahana edukasi sejarah. Mengingat Buleleng dulu pernah menjadi Ibu Kota Provinsi Soenda Ketjil, yang tidak lepas dari pahlawan nasional Mr I Gusti Ketut Pudja.
Ia menambahkan, museum menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng. Sebab, dulu Buleleng sempat sebagai pusat pemerintahan di Bali dan NTT dan NTB, dan ini juga sebagai sumber ilmu, utamanya sejarah untuk pelajar, mahasiswa, peneliti, wisatawan, dan masyarakat umum.
Sutrisna menilai, Museum Soenda Ketjil bagaikan daftar isi. Melalui museum ini, wisatawan yang datang dapat berkunjung ke tempat lain, seperti Puri Anyar Sukasda, rumah tua Mr Pudja, Museum Buleleng yang menyimpan sebagian peninggalannya, Gedong Kertya, bahkan mueum lainnya di Bali.
“Museum ini masternya, pusat informasi, karena Soenda Ketjil dulu tidak hanya Bali, tetapi NTB dan NTT. Penataannya pun memang tidak banyak koleksi, tetapi lebih banyak foto, ada tempat selfi, ajang promosi karya, atraksi budaya dan penanda peristiwa masa lalu,” katanya.
Sutrisna berharap, pengelola kedepannya menyediakan soft copy atau CD audio visual, yang berisi banguann, budaya, pariwisata alam dan sejarah politik Buleleng. Sehingga, misi untuk pengembangan pariwisata melalui museum ini juga tercapai.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Putu Tastra Wijaya, menjelaskan, pemenuhan barang koleksi di Museum Soenda Ketjil baru mencapai 20 persen. Itu pun sementara akan meminjam barang-barang Mr I Ketut Pudja yang masih disimpan di Museum Buleleng dan di Gedong Kirtya. “Sementara kami masih pinjam dulu barang-barang milik Ibu Arinti (anak Mr Pudja) yang di Museum Buleleng dan Gedong Kirtya, tahun depan baru kita pengadaan,” kata dia.
Dari sejumlah barang koleksi untuk mendukung Museum Soenda Ketjil, di antaranya mesin ketik, radio, lukisan, baju peninggalan Mr I Ketut Pudja yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Soenda Ketjil.
Pengadaan koleksi museum pun dikatakan Tastra akan dilakukan secara bertahap. Mengingat kawasan Soenda Ketjil saat itu meliputi Bali, NTT dan NTB. Sehingga, diyakini banyak peninggalan Mr Pudja yang ada di luar Bali. Pihaknya pun mengaku sudah menganggarkan Rp 1,5 miliar di tahun depan untuk membeli barang-barang yang berkaitan dengan Soenda Ketjil yang memungkinkan untuk dibeli.