BALI EXPRESS, GIANYAR - Selain berwisata dan mengeksplorasi beragam destinasi wisata yang ada di Bali, membeli oleh-oleh menjadi salah satu ritual yang tidak bias dilepaskan dari aktivitas wisata di Bali. Sebagai destinasi pariwisata dunia, Pulau Bali memiliki beragam jenis produk yang cocok untuk digunakan sebagai oleh-oleh khas.
Mulai dari produk kerajinan tangan bebahan bamboo, produk fashion,tempurung kelapa, manik-mani hingga berhan serat kayu. Namun bagi wisatawan ada satu jenis oleh-oleh yang benar-benar menjadi ciri khas Pulau Bali yakni produk kerajinan perak.
Untuk mendapatkan produk kerajinan perak ini, saat ini wisatawan yang dating ke Bali memang tidak perlu repot mencarinya sampai keluar Kota Denpasar, karena di Kota Denpasar sendiri sudah sangat banyak took yang menjual produk kerajinan perak ini.
Namun jika ingin merasakan sensasi yang berbeda dan melihat sentra kerajinan Perak terbesar di Bali, wisatawan bias dating langsung ke DesaCeluk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Denpasar.
Di Desa Celuk ini, wisatawan tidak saja bisa berbelanja produk kerajinan perak, namun juga bisa menyaksikan bagaimana proses pembuatan dari produk kerajinan Perak ini.
Kadek Ganda Ismawan, salah seorang pemilik Gallery Perak di Celuk beberapa waktu lalu mengatakan selain sebagai pusat penjualan perhiasan perak, Desa Celuk memang dikenal sebagai pusat produksi dari kerajinan perak. “Dari penemuan sejarah, Desa Celuk sudah menjadi pusat kerajinan perak lebih dari 100 tahun yang lalu,” jelasnya.
Namun demikian diakui Ganda, Desa Celuk mulai dikenal sebagai sentra pengerajin perhiasan perak pada tahun 1976 silam. Saat itu diakui Ganda kerajinan perak yang diproduksi di Desa Celuk masih untuk memenuhi pasar ekspor saja.
Sehingga produk yang dihasilkan adalah produk yang sesuai dengan pesanan dari pemesan di luar negeri. Setelah tahun 2002, tepatnya pasca Bom Bali I, pasar ekspor mulai lesu, saat inilah banyak pengerajin yang mulai melirik pasar domestic, khususnya wisatawan domestic yang berlibur ke Bali.
Hingga akhirnya Desa Celuk yang sekarang dikenal oleh wisatawan adalah Desa kerajinan Perak. “Bahkan Imagenya sekarang adalah, kalau beli perak datanglah ke Celuk,” tambahnya.
Sebagai destinasi wisata belanja, Desa Celuk memiliki konsep wisata seperti Desa wisata pada umumnya. Karena konsepnya perihasan perak ini dijual di home gallery milik krama Desa Celuk. Selain menjual produk kerajinan perak yang didominasi oleh perhiasan dan aksesories lainnya, di Home Gallery ini dikatakan Ganda wisatawan bisa melihat langsung proses pembuatan perhiasan perak.
Proses pembuatan perhiasan secara tradisional ini, bisa menjadi salah satu atraksi wisata yang menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Celuk. Karena dengan melihat secara langsung proses pembuatan beragam jenis produk kerajinan perak, wisatawan bisa mendapatkan pengetahuan mengenai kerajinan perak tersebut.
Jenis produk yang dijualpun beragam jenis produk perhiasan mulai dari cincin, gelang, kalung, anting-anting, bros, dan beragam jenis aksesories lainnya. Selain itu, di art shop-art shop yang ada di Desa Celuk ini wisatawan juga bias menemukan beragam produk lainnya.
Mulai dari peralatan makan seperti sendok, garpu, piring, cangkir, gelas, bokor (yang dipakai umat Hindu untuk tempat banten/sesajen ketika bersembahyang), dan lain sebagainya. “Untuk kerajinan perak dengan bentuk hiasan-hiasan dan pajangan, antara lain keris, kipas, miniatur dari alat-alat transportasi (delman, becak, motor, mobil, perahu, dan lain-lain),” tambahnya.
Harga Mulai dari Rp 50 ribu
PRODUK kerajinan perak yang diproduksi dan jual di art shop di Desa Celuk ini relative terjangkau. Mulai dari Rp 50 ribu untuk satu buah cicin perak hingga diatas Rp 10 juta untuk produk kerajinan lainnya.
Harga yang dibanderol ini, kata Ganda disesuiakan dengan kualitas dan tingkat kerumitan ketika proses pembuatannya. “Untuk harga di sini relative, karena tergantung kualitas dan tingkat kerumitan saat proses pembuatannya,” paparnya.
Untuk pasarnya, Ganda mengatakan produk kerajinan adalah wisatawan yang datang ke Desa Celuk baik itu wisatawan yang datang secara mandiri ataupun wisatawan yang datang secara rombongan. Dan bagi wisatawan yang datang dan ingin melihat proses pembuatan kerajinan perak ini, Ganda mengatakan tidak dikenakan biaya.
Namun jika ada wisatawan yang ingin melakukan aktivitas fotografi, seperti pemotretan ataupun syuting, Ganda mengaku biasanya hanya dikenakan biaya kebersihan saja. “Ini karena aktivitas ini merupakan bagian dari promosi, sehingga kami tidak mengenakan biaya bagi yang ingin melakukan aktivitas foto ataupun syuting,” ungkapnya.
Mengenai bahan baku, Ganda mengatakan bahan-bahan yang digunakan seperti permata, perak mentah, tembaga dan lain sebagainya masih didatangkan dari Jawa dan Kalimantan dicampur lalu dipotong sesuai keperluan dan dibentuk sesuai desain yang diinginkan.
Editor : I Putu Suyatra