Agar tidak terbawa arus sungai, para penambang mengikat ban yang biasa dibuat untuk bekerja dengan besi yang ditancapkan di tanah pinggir sungai. “Kalau tidak diikat dengan kuat, bisa terbawa aliran sungai,” cetus salah satu penambang pasir, Dimyati, 64, warga Dusun Krajan, Desa Setail, Kecamatan Genteng.
Dimyati mengaku pernah kehilangan ban satu-satunya yang digunakan untuk mencari uang. Ban miliknya itu, terbawa aliran sungai yang sedang banjir. Satu ban berikut peralatannya hilang, ia menderita kerugian sekitar Rp 450 ribu rupiah. “Bukan hanya bannya saja yang hilang, semua perlengkapan mencari pasir ikut hanyut,” jelasnya.
Dimyati merinci, perlengkapan mencari pasir di Sungai Setail itu ban bekas yang harganya sekitar Rp 100 ribu, alat untuk ayak pasir sebesar ruji motor sebesar Rp 150 ribu, dan sekop pasir harganya Rp 50 ribu. Ditambah biaya perombakan ban yang dilapisi karet sekitar Rp 50 ribu, dan keperluan lainnya. “Kurang lebih sebanyak itu yang dibutuhkan untuk modal penambangan pasir,” ungkapnya.
Penambang pasir lain, Khori, 55, juga melakukan yang sama. Agar ban miliknya tidak hanyut, diikat dengan besi yang ditancapkan di pinggir sungai. “Saat aliran sungai deras berpotensi menghasilkan pasir lebih banyak, tapi ada risiko yang harus didapatkan, ban bisa hanyut,” jelasnya.
Khoiri mengatakan, derasnya aliran sungai, terkadang tidak bisa diprediksi. Saat di tempatnya cerah, tiba-tiba banjir karena di daerah hulu sedang turun hujan deras. “Kalau ada kesempatan, pasti kami antisipasi, agar ban tidak terbawa arus,” jelasnya. (jpg/wid)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya