Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Suku Madura dan Tradisi Merantau: Ini Penjelasan Masuk Akal Antropolog Unair

I Putu Suyatra • Kamis, 21 Maret 2024 | 21:38 WIB

Antropolog Unair, Dr Mohammad Adib Drs MSi
Antropolog Unair, Dr Mohammad Adib Drs MSi

BALI EXPRESS - Masyarakat Madura dikenal dengan tradisi merantaunya yang kuat. Jejak mereka dapat ditemukan di berbagai pelosok Nusantara, bahkan hingga ke penjuru dunia.

Faktor Ekonomi sebagai Pendorong Utama

Antropolog Unair, Dr Mohammad Adib Drs MSi menjelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi pendorong utama tradisi merantau suku Madura.

Berbeda dengan suku Minang yang merantau karena adat, suku Madura merantau untuk mencari kehidupan yang lebih sejahtera.

Baca Juga: VIRAL! Aksi Sopir Taksi Dekati Bentrok dengan Petugas Avsec di Bandara I Gusti Ngurah Rai Hampir Berujung Kericuhan

“Bermigrasi dilakukan oleh suku bangsa manapun, seperti contohnya masyarakat Minang yang mewajibkan laki-laki untuk merantau. Yang membedakan dengan suku Madura adalah mereka merantau karena mencari jalan hidup yang lebih sejahtera,” ungkap Dr Adib.

Tanah Madura yang Kurang Subur

Kondisi tanah Madura yang tidak subur untuk bercocok tanam mendorong masyarakatnya untuk mencari penghidupan di daerah lain.

Ditambah lagi dengan jumlah penduduk Madura yang cukup besar dan tidak sebanding dengan luas pulaunya.

Baca Juga: Fakta Buruh Bangunan Kesurupan di Klungkung ; Meronta-ronta Setelah Potong Pohon

“Faktor ekologi seperti tanah yang tidak subur itulah yang memaksa mereka untuk merantau mencari mata pencaharian di daerah lain,” ujar dosen etnografi Madura itu.

Bekerja di Sektor Informal

Mayoritas masyarakat Madura yang merantau bekerja di sektor informal, seperti buruh pabrik. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah.

“Pendidikan masyarakat Madura itu terbatas, maka pekerjaan apa saja mereka lakukan. Terutama pekerjaan fisik seperti buruh pabrik. Yang juga ada demand-nya,” imbuhnya.

“Sejarahnya pada zaman Belanda, mereka (Madura, Red) direkrut untuk kerja di pabrik gula,” tambahnya.

Meningkatkan Keterampilan dan Pendidikan

Dr Adib mendorong masyarakat Madura untuk meningkatkan keterampilan dan pendidikannya agar tidak hanya bekerja sebagai pekerja kasar. Fasilitas pendidikan yang disediakan negara dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup di masa depan.

“Maka, tingkatkan pendidikan karena sudah difasilitasi negara. Menyiapkan pendidikan di masa depan. Utamakan pendidikan, membongkar kultur informal. Merantaulah dengan skill, tidak hanya sebagai tenaga kasar,” tungkas Dr Adib. ***

Editor : I Putu Suyatra
#unair #Merantau #madura