Briptu Fadhilatun Nikmah Bakar Suami Karena Judi Online, Tanggapan Menkominfo Bikin Netizen Marah
I Putu Suyatra• Kamis, 13 Juni 2024 | 18:57 WIB
Briptu Fadhilatun Nikmah saat diperiksa Polda Jatim. (Ist)
BALIEXPRESS.ID - Kasus Briptu Fadhilatun Nikmah yang membakar suaminya, Briptu Rian Dwi Wicaksono, di Mojokerto, Jawa Timur, menjadi viral di media sosial.
Kejadian ini terjadi karena pelaku kesal terhadap korban yang menghabiskan uang untuk berjudi online.
Pelaku diduga mengalami baby blues setelah melahirkan bayi kembar, sehingga emosinya menjadi tidak stabil.
Tragedi ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga memicu berbagai reaksi dari berbagai kalangan.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, turut memberikan komentar terkait kasus ini, namun ucapannya justru menuai kontroversi.
Komentarnya dinilai tidak menunjukkan empati dan dianggap bercanda, yang memicu kemarahan netizen.
"Siapa yang membakar? Istrinya, ya? Ternyata perempuan itu lebih kejam dari lelaki ya? Ini tanpa gender stereotype, lho. Yang istrinya membunuh suaminya yang polisi," kata Budi Arie Setiadi.
Netizen pun bereaksi keras terhadap pernyataan Menkominfo tersebut.
Mereka menyoroti sikap Menkominfo yang dianggap tidak fokus pada isu utama, yakni pemberantasan judi online, dan malah membuat komentar yang memperkuat stereotip gender.
"Menteri Ra dong akar masalah e" (Menteri tidak paham akar masalahnya)," tulis akun Twitter @angger_green.
"Giliran bo**p di brantasnya cepat, ini judi loh. Oh iya lupa bo**p kan gak menguntungkan ya," tulis @Ridhongr2.
"Saya gak memojokkan korban. Tapi ini menteri udah kelewat tolol statementnya. Perempuan lebih kejam dari laki-laki? Perkataan TOLOL," tulis @TeahSutaJaya mengungkapkan kemarahannya.
"Indikasinya lakinya habisin duit buat judi, istrinya punya anak masih kecil yang harus dibiayain malah biayain bandar. Siapa yang kejam?" sambung @TeahSutaJaya.
Kasus ini semakin mempertegas urgensi pemerintah untuk serius menangani masalah judi online, serta menunjukkan empati dan kepedulian terhadap isu-isu sosial yang sensitif. ***