BALIEXPRESS.ID – Pesta minuman keras oplosan di Dusun/Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, berujung tragis.
NH (15), seorang remaja, tewas setelah dikeroyok lima temannya sendiri pada Sabtu (28/12) malam.
Jasad korban ditemukan di kebun buah naga sekitar 200 meter dari lokasi kejadian.
Berdasarkan penyelidikan awal, insiden ini dipicu hal sepele, yakni perselisihan kecil saat pesta miras.
Kapolsek Tegaldlimo, Iptu Sadimun, menjelaskan bahwa pesta tersebut diikuti enam remaja, termasuk korban.
Mereka adalah DH (15), AL (15), MA (20), RS (16), dan DA (15). Semua peserta pesta masih berstatus pelajar, kecuali MA yang merupakan pengangguran.
Menurut Sadimun, keributan bermula ketika NH dan temannya, FZ (15), datang ke rumah DH, tempat pesta berlangsung.
Ketidaksenangan muncul karena NH dianggap datang hanya untuk makan setelah masakan seperti biawak dan ayam bakar telah matang.
Setelah makan dan minum, terjadi cekcok antara NH dan tiga pelaku, yakni MA, DH, dan RS.
Keributan memuncak setelah NH kembali ke rumah DH dan terlibat perkelahian dengan MA.
NH kemudian diserang oleh MA, RS, dan DH secara brutal.
“Korban sempat diseret ke kamar mandi, disiram air, dan dipukuli ramai-ramai. Bahkan setelah korban meminta ampun, mereka tetap melanjutkan aksi kekerasan,” ujar Sadimun.
Korban yang sudah lemah akhirnya dibiarkan tergeletak di teras rumah. Hingga tengah malam, napas NH terdengar tersendat-sendat.
Ketika RS menyadari kondisi korban semakin parah, ia mencoba membangunkan teman-temannya, namun mereka terlalu mabuk untuk merespons.
Sekitar pukul 12.00, NH dinyatakan meninggal. Jenazahnya kemudian dibuang ke kebun buah naga oleh MA, DH, dan DA menggunakan motor milik korban.
Keesokan harinya, RS yang merasa ketakutan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tegaldlimo. Polisi segera mengamankan para pelaku dan menemukan sejumlah barang bukti, termasuk botol miras oplosan, sisa pil, dan alat bakar ikan.
Kapolresta Banyuwangi, Kombespol Rama Samtama Putra, menyatakan bahwa motif utama kekerasan adalah perselisihan kecil yang diperburuk oleh pengaruh alkohol. “Pelaku merasa tidak dihargai oleh korban. Namun, kami masih mendalami lebih lanjut,” jelas Rama.
Dalam waktu kurang dari empat jam setelah laporan masuk, empat pelaku berhasil ditangkap.
Para pelaku kini ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sementara pihak kepolisian terus menyelidiki kasus ini secara menyeluruh.
“Kami tegaskan, tidak ada toleransi untuk tindakan kekerasan seperti ini. Semua pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” pungkas Rama. (*)
Editor : Nyoman Suarna