BALIEXPRESS.ID – Sumanto, pria asal Purbalingga ini pernah menjadi perbincangan hangat pada tahun 2003.
Hal ini bermula dari kasus kanibalisme yang mengejutkan public yang dilakukan Sumanto.
Namun dua dekade berlalu, kini Sumanto menjalani hidup yang berbeda sebagai seorang konten kreator.
Kisah kelam Sumanto bermula pada 11 Januari 2003, ketika jasad Mbok Rinah, seorang nenek berusia 81 tahun, dilaporkan hilang dari makamnya hanya 16 jam setelah pemakaman.
Kejadian ini memicu keresahan warga Desa Purbalingga, yang segera melapor kepada pihak berwajib.
Penyelidikan polisi mengarah kepada Sumanto, yang saat itu berusia 32 tahun.
Bukti berupa tulang dan sisa daging jasad korban ditemukan berserakan di rumahnya.
Sumanto pun ditangkap dan dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan.
Sumanto mengaku telah mencuri jasad Mbok Rinah untuk dimakan.
Aksinya ini memicu kontroversi luas, terlebih ketika pengacaranya berargumen bahwa jasad tidak dianggap sebagai barang.
Meski dinyatakan memiliki gangguan jiwa oleh psikolog dari Dinas Psikologi Polda Jateng, Sumanto tetap dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Purbalingga, lebih ringan setahun dari tuntutan jaksa.
Setelah bebas dari penjara, Sumanto menjalani transformasi yang tak terduga.
Kini, ia dikenal sebagai seorang konten kreator dengan akun Instagram bernama Sumanto Gereng Reborn, yang memiliki lebih dari 10 ribu pengikut.
Melalui akun tersebut, Sumanto rutin membagikan konten kuliner, terutama video mukbang dan ulasan makanan.
Salah satu unggahannya yang menarik perhatian adalah ketika ia mencicipi sate sambil menyampaikan pesan motivasi.
Meski telah bertransformasi, masa lalu Sumanto tetap menjadi bahan perbincangan.
Banyak warganet yang melontarkan komentar jenaka, mengaitkan makanan yang ia konsumsi dengan sejarah kelamnya.
Namun, ada pula yang memberikan dukungan dan apresiasi atas perubahan hidupnya.
Transformasi Sumanto menjadi konten kreator menunjukkan bahwa manusia memiliki peluang untuk berubah dan memperbaiki diri, tak peduli sekelam apapun masa lalunya.
Kini, pria yang dulu dicap sebagai kanibal ini memilih untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana berbagi, sekaligus membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan kedua. (*)
Editor : Nyoman Suarna