Detik-Detik Mencekam Bocah 10 Tahun Diterkam Buaya di Depan Mata Teman-temannya!
I Putu Suyatra• Senin, 28 April 2025 | 14:51 WIB
Petugas evakuasi jenazah bocah di Sungai Sangatta Kalimantan Timur. (IST)
BALIEXPRESS.ID – Kisah pilu dari Sungai Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur, menyayat hati. Seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun, Fiki, tak pernah kembali ke pelukan keluarganya setelah berenang bersama teman-temannya di sungai yang menyimpan bahaya tersembunyi.
Inilah kronologi mencekam yang merenggut nyawa Fiki:
Sabtu Sore yang Nahas
Hari itu, Sabtu sore yang cerah seharusnya menjadi momen keceriaan bagi Fiki dan enam orang temannya.
Mereka memutuskan untuk bermain dan berenang di Sungai Sangatta, yang membelah Kampung Kajang, Sangatta Selatan.
Sungai yang bagi warga setempat menyimpan cerita turun-temurun tentang keberadaan buaya, namun mungkin tak terpikirkan akan menjadi kenyataan pahit bagi anak-anak ini.
Tawa Berubah Jerit Ketakutan
Awalnya, suasana riang gembira mewarnai sore itu. Teriakan anak-anak, canda tawa, dan kebebasan berenang di air sungai menjadi pemandangan biasa. Namun, petaka datang tanpa diduga.
Saat Fiki berpegangan pada batang bambu di pinggir sungai, sebuah kejadian mengerikan terjadi di depan mata teman-temannya.
Detik-Detik Mencekam di Tepi Sungai
Tanpa ada peringatan, seekor buaya dengan gerakan kilat muncul dari dalam air.
Teman-teman Fiki hanya bisa terpana melihat bocah malang itu berusaha keras bertahan, namun kekuatan predator ganas itu terlalu besar.
Dalam sekejap, buaya menyeret Fiki ke dalam air yang keruh, meninggalkan teriakan histeris dan kepanikan di tepi sungai.
Warga Geger, Laporan Cepat ke SAR
Kabar tragis itu dengan cepat menyebar ke seluruh Kampung Kajang. Warga yang geger segera melaporkan kejadian mengerikan tersebut ke Pos SAR Sangatta.
Harapan untuk menemukan Fiki dalam keadaan selamat masih membara di benak mereka.
Pencarian di Sungai Penuh Bahaya
Pagi harinya, Ahad (27/4/2025), tim SAR gabungan bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Membelah Sungai Sangatta dengan perahu karet, mereka menyisir sepanjang tepian sungai.
Panas terik dan hujan yang sempat mengguyur tak menyurutkan semangat tim. Semua menyadari betapa berbahayanya misi ini.
Sungai itu bukan hanya memiliki arus yang kuat, tetapi juga menjadi habitat alami bagi buaya-buaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam.
Penemuan Tragis di Kedalaman Sungai
Setelah berjam-jam melakukan pencarian yang menegangkan, sore harinya kabar duka akhirnya tiba.
Jasad Fiki ditemukan sekitar dua ratus meter dari titik terakhir kali ia terlihat.
Suasana haru dan isak tangis tak terbendung saat tim SAR membawa jenazah bocah malang itu kembali ke rumah duka, diiringi oleh kesedihan mendalam keluarga dan seluruh warga kampung.
Hari itu, operasi pencarian resmi ditutup. Para relawan dan petugas SAR kembali ke pos masing-masing dengan membawa duka yang mendalam.
Namun, Sungai Sangatta tetap mengalir tenang di permukaan, menyimpan bahaya laten di kedalamannya.
Tragedi yang menimpa Fiki menjadi pengingat pahit bagi semua orang bahwa sungai bukanlah tempat bermain yang aman, terutama sungai yang dikenal memiliki populasi buaya.
Warga sekali lagi diingatkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan mengawasi anak-anak agar tidak bermain di tepi sungai tanpa pengawasan orang dewasa. Sungai yang indah menyimpan bahaya yang bisa datang kapan saja. ***