BALIEXPRESS.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali mencuri perhatian publik dengan kebijakan unik dan kontroversialnya.
Dalam sebuah video yang viral di TikTok, Dedi tampil dengan gaya khasnya yang santai namun tegas, memberikan ultimatum kepada anak-anak yang suka melawan orangtua, malas mandi, ogah sekolah, dan terlalu banyak jajan.
“Kalau masih suka lawan orangtua, gak nurut, siap-siap ya, nanti Pak Gubernur datang jemput ke rumah. Mau sekolah di barak militer atau nurut sama orangtua?” ucapnya dalam video tersebut sambil tersenyum tajam namun penuh sindiran.
Pernyataan itu bukan sekadar gertakan. Dedi membuktikan bahwa ketegasan bisa diterapkan secara nyata.
Puluhan anak di Purwakarta yang kedapatan kerap tawuran, membangkang terhadap orangtua, dan tidak disiplin akhirnya benar-benar dibawa ke barak militer.
Mereka ditempatkan di Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, sebuah markas tentara yang kini mendadak menjadi “sekolah kedisiplinan” bagi para remaja bermasalah.
Di sana, mereka bukan hanya dikenalkan pada kehidupan militer, tetapi juga dilatih disiplin keras—bangun pagi, push up, baris-berbaris, dan makan bersama ala tentara.
Metode ini diharapkan dapat membentuk ulang karakter dan sikap mereka yang sebelumnya liar dan sulit dikendalikan.
Langkah tegas ini pun langsung menjadi viral di media sosial. Banyak orangtua menyambut positif program ini, bahkan menjadikannya sebagai “senjata psikologis” untuk mengingatkan anak-anak mereka agar tidak berulah.
“Anak saya langsung tobat, ngajak mandi sendiri dan gak mau jajan lagi,” tulis akun @Nabila yang mendapat ribuan likes dan komentar dukungan.
Netizen lainnya juga ikut berkomentar dengan nada jenaka. “Sekarang anak-anak takutnya bukan sama barong, tapi sama Kang Dedi!” tulis akun @WnG Outdoor Sport, menandakan betapa kuat pengaruh figur sang gubernur.
Meskipun menuai pujian, kebijakan ini juga mendapat kritik dari sebagian pihak yang menganggap pendekatan militer terhadap anak-anak bisa berdampak negatif terhadap psikologis mereka.
Namun bagi sebagian besar warganet dan orangtua, ketegasan Dedi dianggap sebagai angin segar di tengah keresahan akan kenakalan remaja yang makin meresahkan. (*)
Editor : Nyoman Suarna