Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Tragis di Rooftop Sekolah: Siswa SMP Tewas Tersetrum Usai Lompati Pagar: Akses Ilegal Jadi Sorotan!

I Putu Suyatra • Minggu, 11 Mei 2025 | 13:48 WIB

TKP tewasnya Strven Suka Hariyadi di SMA Katolik Frateran, Surabaya. (Juliana Christy/JawaPos.com)
TKP tewasnya Strven Suka Hariyadi di SMA Katolik Frateran, Surabaya. (Juliana Christy/JawaPos.com)

BALIEXPRESS.ID - Sebuah insiden tragis menggemparkan Surabaya. Steven Suka Hariyadi (15), seorang siswa SMPK Angelus Custos Surabaya, ditemukan tewas setelah diduga tersengat listrik di area rooftop lantai 4 SMAK Frateran Surabaya.

Peristiwa nahas yang terjadi pada hari libur Nyepi, Jumat (28/3), ini memunculkan sejumlah pertanyaan krusial, terutama mengenai bagaimana Steven bisa mengakses area sekolah yang seharusnya terkunci.

Kejanggalan semakin menguat lantaran gedung SMP dan SMA terpisah, dan akses menuju rooftop SMA seharusnya tidak dapat dilalui oleh siswa SMP.

Baca Juga: Mendung Tak Halangi Langkah Tegas Kang Dedi Mulyadi: Pemuda 'Nakal' Jabar Masuk Barak Militer!

Tjandra Sridjaja, Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni (IKA) Frateran, menegaskan bahwa Steven dan teman-temannya tidak masuk melalui gerbang utama yang terkunci rapat.

Mereka justru nekat menerobos melalui pintu belakang asrama SMA.

"Kejadian ini adalah siswa SMP yang masuk ke lokasi SMA tanpa izin dan melakukan kegiatan di sana tanpa sepengetahuan pihak sekolah," ujar Tjandra dengan nada prihatin, Sabtu (10/5).

Rekaman CCTV bahkan menunjukkan bagaimana Steven dan rombongannya menyelinap masuk melalui jalur yang bukan akses umum.

Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan Ibu Hamil agar Tetap Sehat dan Bugar hingga Persalinan

Informasi dari rekan-rekan Steven mengungkap bahwa sebelum kejadian mengerikan itu, korban sempat mencoba melompati pagar rooftop dari bagian tengah.

Upaya berbahaya itu sempat dicegah oleh teman-temannya. Namun, tak disangka, Steven kemudian bergerak ke sisi lain pagar, memanjatnya, dan naik ke area yang menjadi lokasi tragedi.

Detik-detik menegangkan saat Steven melakukan aksi berbahaya itu terekam jelas oleh kamera pengawas.

Sebelum memanjat pagar pembatas, Steven terlihat melepas sepatunya.

Ia kemudian berjalan menuju sisi rooftop dan tanpa disadari menginjak kabel AC yang diduga kuat terkelupas.

"Pada waktu dia kesetrum pun, teman-temannya masih mengira bercanda. Dia masih katakan, 'kesetrum', kan begitu rekamannya. Terus masih diem gitu. Sama temannya kan dibiarkan. Setelah dia jatuh, baru temannya tahu," jelas Tjandra dengan nada pilu.

Hingga kini, alasan pasti yang mendorong Steven melakukan aksi nekat melompati pagar rooftop masih menjadi misteri.

Namun, Tjandra menggambarkan Steven sebagai sosok remaja yang aktif dan penuh semangat, bahkan terkadang suka melakukan hal-hal yang menantang.

Tuntutan Keluarga Korban dan Respon Pihak Sekolah

Tragedi ini berbuntut panjang. Pihak keluarga Steven Suka Hariyadi dikabarkan telah melayangkan tuntutan kepada pihak sekolah, meminta pertanggungjawaban atas insiden yang merenggut nyawa putra mereka.

Bahkan, surat dari keluarga korban yang dikirimkan ke Dinas Pendidikan (Diknas) pada 24 April 2025, berisi permintaan yang cukup berat: pencabutan izin sekolah, penutupan sekolah, hingga pemecatan para guru.

Baca Juga: 'KDM lain Bapak Aing' Viral spanduk Muncul di Jalanan Bandung Jawa Barat!

Menanggapi tuntutan tersebut, Tjandra Sridjaja menyatakan bahwa pihak sekolah telah diundang ke Diknas pada 28 April untuk membahas hal ini.

"Bagi kami, ini tidak bijaksana. Jika memang ingin menempuh jalur hukum, biarlah proses hukum berjalan dulu. Siapa yang salah, biar pengadilan yang menentukan," tegas Tjandra di SMAK Frateran.

Ia juga menyayangkan tindakan Steven dan teman-temannya yang masuk tanpa izin melalui pintu belakang asrama.

"Seandainya dia meminta izin, kemungkinan besar akan ditolak, karena dia siswa SMP. Jika pun diizinkan, pasti ada pendampingan dari guru," imbuhnya.

Upaya mediasi dari pihak sekolah pun menemui jalan buntu.

Baca Juga: Lima Hari Hilang Terseret Arus, WNA Yordania Ditemukan Tewas Mengapung di Laut Kedonganan

Frater sempat berencana untuk bertemu dan menyampaikan belasungkawa mendalam kepada orang tua korban, bahkan dengan niat tulus untuk "mencuci kaki serta mencium kaki" sebagai simbol rasa kehilangan.

Namun, tawaran ini ditolak oleh pihak keluarga yang bersikeras meminta pihak sekolah mengakui kesalahan dan meminta maaf terlebih dahulu.

Tjandra mengungkapkan bahwa pihak sekolah sebenarnya telah mendampingi keluarga korban sejak awal, mulai dari rumah sakit hingga proses pemakaman.

Namun, dua minggu setelah kejadian, muncul desakan dari beberapa orang tua siswa yang menuntut pengakuan kesalahan dari pihak sekolah.

"Mereka ingin sekolah minta maaf dulu, baru akan bertemu. Bagi kami, permintaan itu tidak bijaksana, apalagi dengan adanya ancaman tuntutan hukum perdata maupun pidana," tandas Tjandra.

Pihak sekolah berharap agar semua pihak dapat menghormati proses hukum yang mungkin akan berjalan.

Baca Juga: Diduga Akibat Korsleting Listrik, Toko Bangunan Terbakar

"Jika memang ingin mencari keadilan, biarlah hukum berjalan dengan semestinya. Yang salah biar dihukum di pengadilan," pungkas Tjandra. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#SMPK Angelus Custos Surabaya #tersengat listrik #SMAK Frateran Surabaya