Pasalnya, masyarakat Tengger yang tersebar berada di Kawasan Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang akan menggelar Tradisi Kasodo yang jatuh pada Rabu, (11/6) mendatang.
Namun, sehari sebelumnya dilaksanakan upacara pujawali di Pura Luhur Poten yang posisinya persis di kaki Kawah Gunung Bromo pada Selasa (10/6) bertepatan pada Purnama Sasih Sada.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), suasana penjor yang terlihat rapi berjejer ini dipasang sebagai pertanda jika Pujawali di Pura Luhur Poten dan ritual Kasodo akan segera dilaksanakan.
Bukan tanpa alasan, mengapa Masyarakat Desa Ngadisari sibuk membuat penjor. Pasalnya, desa ini merupakan titik terdekat dengan Kawasan Gunung Bromo.
Sukir, 36 yang merupakan warga Desa Ngadisari sedang sibuk membuat penjor. Ia menggunakan janur sebagai hiasan.
“Masyarakat di Desa Ngadisari yang memasang penjor ini tidak hanya umat Hindu, tetapi masyarakat non Hindu juga memasang penjor. Ini sebagai bentuk kesadaran,” jelasnya.
Ia menjelaskan, pujawali di Pura Luhur Poten memang dilaksanakan oleh Umat Hindu. Namun, saat prosesi melarung sesaji di Kawah Gunung Bromo serangkaian prosesi dilaksanakan oleh seluruh warga Suku Tengger.
“Semua warga Tengger bisa ikut prosesi melarung sesaji, sebagai simbol Syukur atas kesuburan dan panen yang melimpah,” kata Sukir.
Sementara itu, di areal Pura Luhur Poten, umat Hindu Tengger sedang mempersiapkan berbagai sarana upacara. Mulai dari membuat penjor, menata tempat sesajen hingga mempersembahkan suguhan sebagai pertanda jika upacara sudah dimulai.
Umat Hindu yang membawa persembahan suguhan itu berasal dari berbagai desa di empat kabupaten yakni Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang.
“Ini disebut Suguhan berupa lauk-pauk, jajanan pasar, rokok dan hasil bumi seperti sayur yang dipersembahkan kepada Dewa Kusuma sebagai pertanda bahwa upacara di Pura Luhur Poten sudah dimulai,” ujar Puji Waluyo, warga Desa Wonotoro, Probolinggo.
Sementara itu, Romo Mangku Adi Santoso menjelaskan, pada Minggu (8/6) sudah dilakukan prosesi Mendak Tirta dari berbagai sumber mata air suci.
Tirta diambil dari Kawasan Widodaren, Madakaripura, Merumoyo, Ranu Pani, Sumber pitu, dan Sumber Semanik. Kemudian tirta tersebut dibawa ke Pura Luhur Poten dengan sesaji khas berupa 35 Gedang Ayu dan 35 Ajang Tamping, sesuai keputusan rapat panitia adat.
“Kami sudah mulai persiapan untuk upacara Pujawali di Pura Luhur Poten,” paparnya.
Ia menjelaskan, pada Senin (9/6), diisi dengan upacara Rakatawang, Nurunen (Mekala Hyang), dan pembejian, dengan pusat kegiatan di Sedaeng dan Kalitejo.
Baca Juga: Tertipu! Puluhan Suporter Gagal Masuk GBK Gara-Gara Gunakan ID Wartawan Palsu, Netizen: Bikin Malu
Puncak acara Piodalan jatuh pada Selasa (10/6), yang diramaikan dengan arepan sulinggih dan pemangku, serta pementasan tari-tarian sakral di Pura Luhur Poten.
Caru Panca Sata dipersembahkan di Mororejo, diiringi oleh berbagai sarana berupa pajegan dari desa-desa sekitar seperti Ngadisari, Wonokitri, dan Tosari. (dik)
Editor : I Putu Mardika