Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jalani Ritual Mulunen saat Kasada, Dua Calon Dukun Pandita ‘Lulus’ di Tengger Lewati Ujian Merapalkan Mantra  

I Putu Mardika • Rabu, 11 Juni 2025 | 18:59 WIB

 

Calon Dukun Pandita saat menjalani prosesi Mulunen pada Rabu (11/6) di Pura Luhur Poten, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo
Calon Dukun Pandita saat menjalani prosesi Mulunen pada Rabu (11/6) di Pura Luhur Poten, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo
BALIEXPRESS.ID-Pujawali di Pura Luhur Poten Bromo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur berlangsung kusyuk pada Selasa (10/6) siang.

Menariknya, pujawali yang dilanjutkan dengan Kasada ini melahirkan dua orang Dukun Pandita baru setelah melewati ujian saat Mulunen dilaksanakan pada Rabu (11/6) dini hari.

Mulunen merupakan ujian menjadi dukun di Tengger yang diselenggarakan sekali dalam satu tahun pada bulan Kasada. Saat Mulunen, para Calon Dukun Pandita diuji untuk mengucapkan mantra-mantra dan disaksikan oleh puluhan Dukun Pandita.

Di sinilah prosesi terpenting untuk menjadi Dukun Pandita, banyak di antaranya yang gagal dalam upacara Mulunen ini.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) prosesi Mulunen dimulai sejak 03.00 Wita. Namun, umat Hindu Tengger sudah memenuhi areal Pura Luhur Poten. Mereka ingin menyaksikan calon Dukun Pandita melalui ujian Mulunen.

Baca Juga: Bung Towel: Skor 6-0 Lawan Jepang Bukti Indonesia Masih Kalah Kelas

Pada Mulunen kali ini, ada dua calon Dukun Pandita yang akan diuji. Mereka adalah Sukadi Satin dari Dusun Gemboyo dan rekannya Sutarji dari Dusun Kandang Sari. Keduanya berasal dari Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Sebelum Mulunen dimulai, terlebih dahulu Ketua Paruman Dukun Pandita yakni Romo Dukun Pandita Sutomo membacakan Sejarah singkat Kasodo dan asal-usul Tengger.

Kemudian dilanjutkan dengan Puja Stuti oleh seluruh Dukun Pandita se kawasan Tengger.

Suasana menjadi hening, saat beberapa dukun pandita sebagai penguji duduk di tempat khusus. Mereka adalah Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah dan Romo Dukun Pandita Sutomo.

Giliran pertama dipanggil adalah calon Dukun Pandita bernama Sukadi Satin. Ketika diberikan kesempatan merapalkan mantram, Sukadi begitu lancar tanpa pengulangan.

“Bagaimana masyarakat Brang Kulon dan Brang Wetan, apakah sah?” tanya Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah, disambut teriakan sah oleh umat Hindu Tengger yang memadati areal Pura Luhur Poten. Ya, Sukadi Satin dinyatakan lolos dari ujian Mulunen.

Baca Juga: HARU! Demi Bertemu Dedi Mulyadi, Bocah Yatim Piatu Kayuh Sepeda Ratusan Kilometer

Selanjutnya giliran Sutarji diberikan kesempatan merapalkan mantra. Ia sukses menghafal mantra dengan sangat lancar. Ia pun dinyatakan lolos dalam Mulunen tersebut oleh ketiga romo Dukun Pandita.

Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah menjelaskan, saat ujian Mulunen memang tidak ada yang dapat memastikan keberhasilan dalam mengucapkan mantra-mantra, hanya orang-orang tertentu yang memiliki kualitas dan memiliki titisan dukun yang dapat melaluinya.

Hal ini memang sulit untuk dipikirkan secara empiris, karena seleksi Dukun Pandita ini memang di luar akal manusia, semua yang terjadi adalah rahasia leluhur mereka.

Namun sejarah menyebutkan yang dapat terpilih menjadi dukun Pandita kebanyakan adalah mereka yang memiliki titisan Dukun Pandita atau garis keturunan Dukun Pandita.

“Banyak yang menjadi dukun Pandita itu memang karena sebelumnya ada garis keturunan. Misalnya, ayahnya adalah Dukun Pandita, atau Kakeknya pernah menjadi Dukun Pandita. Sehingga diyakini ada semacam ijin dari leluhur agar melanjutkan ngayah melayani umat,” kata Romo Dukun Pandita Eko Noto.

Baca Juga: Pekak Petruk Diserang Isu Politik, Blauk Tegaskan Dibayar Karena Jasa, Bukan Suara

Orang-orang inilah yang biasanya dipilih ataupun didukung oleh masyarakat untuk menjadi pemimpin mereka, karena masyarakat yakin hanya orang-orang titisan Dukun Pandita yang memiliki kekuatan lebih yang tidak dimiliki orang lain.

Romo Dukun Pandita Eko menambahkan, bukan hal gampang menjadi seorang Dukun Pandita. Sebab, ada sejumlah syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Semisal, calon dukun pandita harus beragama Hindu, ia memiliki seorang putra, berkelakuan baik, dan tentu mampu mencarikan hari baik untuk warga Tengger yang akan menggelar ritual. Selain itu, Syarat utamanya adalah memahami tentang sarana ritual Hindu Tengger.

Calon Dukun Pandita juga harus mengantongi semacam ‘rekomendasi’ dari Kepala Desa setempat. Rekomendasi ini merupakan simbol dukungan dari warga yang membutuhkan pelayanan seorang Dukun Pandita.

Setiap desa di kawasan Tengger memang sewajarnya ada satu atau dua orang dukun pandita yang kelak bertugas melayani umat. Namun, jika mereka dirasa sudah tidak mampun menjalankan tugasnya karena usia, maka bisa diganti oleh orang yang layak.

“Misalnya, ada satu desa di kawasan tengger terpaksa meminjam Dukun Pandita dari desa lain yang bertetangga untuk memimpin ritual. Kondisi ini karena belum adanya Dukun Pandita. Jika sudah ada, maka bisa memimpin upacara,” sebutnya. 

Baca Juga: Polemik Mundurnya Petruk dari Drama Gong Lawas: Blauk Tegaskan Tak Ada Unsur Politik

Setelah lulus dalam upacara Mulunen, masih ada beberapa syarat dan upacara yang harus dilalui oleh seorang dukun adat, di antaranya adalah Nemoken Ping Pitu, yaitu dukun adat harus menemukan pengantin atau memimpin upacara Walagara sejumlah tujuh kali.

Romo Dukun Pandita Eko Walagara menjelaskan Walagara adalah upacara resepsi pernikahan adat Suku Tengger. Selain memimpin upacara Walagara tersebut, dukun adat sendiri juga harus melakukan Walagara atau menikah dengan Mbau Rekso, yaitu penunggu desa yang tidak kasat mata.

Apabila syarat-syarat tersebut sudah dipenuhi maka Dukun Pandita baru boleh melaksanakan upacara mulai dari yang terkecil yaitu Otonan. Otonan merupakan upacara untuk menyambut kelahiran manusia yang jatuhnya setiap enam bulan sekali, berdasarkan perhitungan wuku.

“Hingga nantinya baru boleh melaksanakan upacara yang besar seperti Unan-unan dan juga Kasada. Setelah syarat-syarat tersebut dipenuhi maka sudah menjadi dukun adat yang sah menurut adat,” ungkapnya.

Baca Juga: Tak Ada Larangan Resmi, Blauk Beber Alasan Petruk Tak Tampil di PKB

Setelah menjadi Dukun Pandita, maka saat Yadnya Kasada seorang Dukun Pandita wajib mempersembahkan hongkek. Hongkek berasal dari kata Hong yang bermakna Mahakuasa dan Kek bermakna leluhur cikal bakal.

Sesaji ini akan dilarung ke kawah Bromo sebagai persembahan kepada Sang Mahakuasa dan para leluhur cikal bakal Tengger sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas limpahan hasil bumi yang telah diberikan kepada Wong Tengger. Hongkek terdiri dari pohon piji (mirip palem), bungkil (batang) pisang, palawiji, dan tujuh buah pras. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Luhur Poten Bromo #probolinggo #ngadisari #Sukapura #Dukun Pandita