BALIEXPRESS.ID — Di balik raut wajah polos seorang gadis bernama Purwanti, tersimpan kisah perjuangan yang begitu menyayat hati.
Gadis belia asal Desa Bunder, Kecamatan Cidahu, Kuningan ini, menjadi simbol keteguhan seorang anak dalam melawan kerasnya hidup—tanpa ibu, tanpa dukungan ayah, dan hidup dalam keterbatasan.
Purwanti kini tinggal bersama neneknya, setelah sang ibu meninggal dunia karena gantung diri (bundir), diduga akibat tekanan batin dan keputusasaan. Sejak saat itu, sosok sang ayah tak lagi bisa diandalkan.
Meski masih hidup dan berdagang nasi goreng di Jakarta, sang ayah jarang pulang dan nyaris tak memberi nafkah.
Komunikasi terakhir hanya untuk meminta fotokopi KTP, itu pun dijawab dengan penolakan dingin dan pemutusan sambungan telepon.
“Mama pernah bilang, jangan sampai aku berhenti sekolah. Jangan kayak mama,” ucap Purwanti lirih, mengenang pesan terakhir ibunya yang tak ingin anaknya mengalami nasib yang sama.
Kini, biaya hidup dan pendidikan Purwanti ditopang oleh bibinya, adik dari almarhumah ibu yang bekerja sebagai karyawan toko, dengan tanggungan anak-anaknya sendiri.
Meski bukan orang tua kandung, bibinyalah yang menunjukkan tanggung jawab sejati, berbanding terbalik dengan sang ayah.
Lebih memilukan, adik bungsunya yang baru berusia tiga tahun tidak lagi bisa minum susu karena ketiadaan dana. “Kadang cuma makan bubur. Susu enggak ada,” kata Purwanti.
Bahkan dapur rumah yang mereka huni disebut berantakan, bukan karena malas, tapi karena penuh sesak oleh barang-barang lama yang tak sanggup mereka benahi.
Namun di tengah keterpurukan itu, semangat Purwanti tidak padam.
Ia tetap mendaftar ke SMA Negeri 1 Cidahu, berkat bantuan kepala sekolahnya.
Ia juga aktif membantu di rumah menjaga adik, mencuci, menyetrika, meski rumahnya hanyalah sebuah gubuk seadanya.
Baca Juga: Mimih! Pikap Alami Insiden di Jalur Sudaji-Kintamani, Tomat Berserakan di Jalan
Kisah Purwanti bukan sekadar cerita duka, tetapi cambuk keras bagi banyak orang tua yang lupa akan tanggung jawabnya.
Dalam diamnya, gadis ini menorehkan pelajaran hidup: bahwa harapan bisa tumbuh bahkan dari reruntuhan hati dan kehancuran rumah tangga.
“Saya enggak berharap lagi ke Bapak. Biar enggak sakit hati lagi,” ujarnya dengan mata sembab namun penuh tekad. (*)
Editor : Nyoman Suarna