BALIEXPRESS.ID - Kota Semarang kembali digegerkan skandal yang menyeret seorang aparatur sipil negara (ASN).
Seorang pegawai kelurahan di Kecamatan Semarang Tengah, berinisial A, kini menjadi sorotan tajam usai viral di media sosial.
Ia diduga tak hanya melakukan pelecehan seksual, namun juga kedapatan memakai mobil dinas untuk kepentingan pribadi—yakni kencan dengan wanita muda yang dikenalnya lewat aplikasi.
Baca Juga: Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, 24 Penerbangan di Bandara Ngurah Rai Dibatalkan
Skandal ini mencuat setelah seorang perempuan berinisial U, yang masih berusia 19 tahun, curhat melalui akun Instagram @dinaskegelapan_kotasemarang pada Minggu (6/7) malam.
Dalam video tersebut, U dengan berani membeberkan pengalamannya yang diduga menjadi korban pelecehan seksual ASN tersebut.
Bukan cuma soal dugaan pelecehan, warganet dibuat geram karena A membawa U menggunakan mobil dinas saat pertemuan pertama mereka. Mirisnya, ajakan itu bermula dari aplikasi kencan daring Omi.
Baca Juga: Kunjungi PKB, Gibran Boyong Patung Pis Bolong Seharga Rp 7,5 Juta Buatan UMKM Bali
U menceritakan, pertemuan awal terjadi di sebuah kafe kawasan Singosari, Semarang.
Ia mengaku diajak karaoke bersama dua temannya oleh A. Namun, insiden tak terduga justru terjadi di dalam mobil dinas saat perjalanan menuju tempat karaoke.
“Di mobil itu aku mulai merasa nggak nyaman. Dia mulai berani macem-macem,” ungkap U dalam video tersebut.
Pelecehan disebut berlanjut di ruang karaoke. Bahkan, U mengaku sempat dibentak karena menolak ajakan pelaku, hingga ia terpaksa berlari ke toilet untuk menyelamatkan diri.
Lebih parah lagi, ia menyebut temannya menjadi korban berikutnya.
Kabar ini langsung mengundang reaksi dari Camat Semarang Tengah, Aniceto Magno Da Silva.
Baca Juga: Diduga Langgar Aturan Tata Ruang, Pembangunan di Atas LSD dan Kawasan Tanah Lot Kembali Berlangsung
Ia membenarkan A adalah staf bagian kesekretariatan di kelurahan wilayahnya.
“Saya sudah panggil yang bersangkutan untuk klarifikasi. Katanya dia tidak melakukan. Tapi saya juga panggil korban untuk dengar keterangan langsung,” ujar Camat yang akrab disapa Moy ini.
Meski terduga pelaku membantah, Moy menegaskan tidak ada toleransi untuk kasus pelecehan seksual di jajarannya.
Baca Juga: Pendaftaran SPMB SMA/SMK Negeri Bali Ditutup, Total Pengajuan Capai 83 Ribu Lebih
Ia bahkan terang-terangan menyampaikan kekesalannya.
“Sebagai pimpinan, saya marah. Saya minta maaf kepada korban atas tindakan staf saya. Tidak seharusnya fasilitas negara dipakai untuk hal-hal seperti itu,” tegasnya.
Kasus ini memicu desakan warganet agar pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas.
Warganet pun menuntut hukuman tidak hanya soal pelecehan, tapi juga dugaan penyalahgunaan fasilitas negara. (*)
Editor : Nyoman Suarna