BALIEXPRESS.ID – Satu lagi warga asal Kabupaten Probolinggo menjadi korban kebrutalan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Korban adalah Edi Hermanto, 39, warga Desa Kropak, Kecamatan Bantaran.
Edi tewas setelah ditembak di bagian kepala oleh orang tak dikenal yang diduga anggota KKB, Sabtu malam (12/7) sekitar pukul 19.29 WIT.
Saat kejadian, korban sedang bersantai di rumah kontrakannya yang terletak di depan Pasar Central Nagalomoni, Kampung Pagaleme, Distrik Pagaleme, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah.
Fauzi, kerabat korban, menuturkan bahwa sesaat sebelum kejadian, Edi sempat melakukan panggilan telepon dengan istrinya yang berada di Bantaran. Tak lama berselang, seseorang datang mengetuk pintu kontrakan.
“Korban membukakan pintu. Tapi begitu pintu terbuka, orang itu langsung menembakkan pistol ke arah kepala korban,” terang Fauzi saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (13/7).
Tembakan tersebut menembus dahi hingga bagian belakang kepala korban. Edi pun tewas di tempat dengan luka tembak parah di bagian kepala.
Belum diketahui secara pasti siapa pelaku penembakan. Namun, kuat dugaan pelaku merupakan bagian dari KKB yang selama ini kerap menebar teror di wilayah tersebut.
“Edi tidak tinggal sendirian. Di kontrakan itu dia bersama beberapa rekannya yang juga berasal dari Desa Kropak,” tambah Fauzi, warga Desa Jorongan, Kecamatan Leces.
Salah satu teman kontrakan korban lantas mengabari keluarga di Bantaran. Kabar duka tersebut langsung membuat keluarga terpukul. Sang istri bahkan disebut masih dalam kondisi syok.
Korban meninggalkan seorang istri dan satu anak yang masih remaja. Pihak keluarga saat ini hanya bisa menunggu kedatangan jenazah korban dari Papua.
Menurut Fauzi, keluarga sebenarnya sudah merasa waswas dengan kondisi Edi yang tinggal di daerah rawan konflik. Apalagi, Edi sudah cukup lama bekerja sebagai pegawai toko di Papua.
“Setahu saya, dia sudah lama kerja di sana. Terakhir pulang ke rumah sekitar setahun lalu,” ungkapnya.
Jenazah rencananya dipulangkan pada Minggu (13/7). Namun, karena tidak ada jadwal penerbangan malam itu, kepulangan ditunda.
“Malam itu tidak ada penerbangan. Jadi belum bisa dipastikan kapan jenazah tiba di rumah duka. Kemungkinan baru bisa diberangkatkan besoknya,” jelasnya.
Kepala Desa Kropak, Satap Efendi membenarkan peristiwa tersebut. Namun pihaknya belum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan tiba di rumah duka.
“Kami sudah mengetahui kabar duka ini. Tapi untuk kepastian jadwal pemulangan jenazah, kami masih menunggu informasi lebih lanjut,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, jenazah diberangkatkan dari Bandara Udara Mulia di Puncak Jaya, Minggu (13/7), menggunakan pesawat Adventist Aviation PK-SGA. Jenazah tiba di Bandara Adven Doyo Sentani, Jayapura, pukul 13.43 WIT.
Kemudian sekitar pukul 14.50 WIT, jenazah diberangkatkan ke Masjid Agung lalu dibawa ke Cargo Lionel Grub.
Rencananya, jenazah akan diterbangkan ke Surabaya menggunakan maskapai Batik Air pada Senin (14/7) pukul 09.00 WIT.
Setelah transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, jenazah akan melanjutkan penerbangan menuju Bandara Juanda, Surabaya, menggunakan Lion Air pukul 12.00 WITA. Jika tidak ada kendala, jenazah diperkirakan tiba di Surabaya pada pukul 12.50 WIB. (*)
Editor : Nyoman Suarna