Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pesta Pernikahan Putra Dedi Mulyadi dan Wabup Garut Berujung Petaka, 3 Tewas dan Puluhan Terluka: Ini Klarifikasinya

Nyoman Suarna • Minggu, 20 Juli 2025 | 20:44 WIB
Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina (kanan) bersama suaminya Maula Akbar.
Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina (kanan) bersama suaminya Maula Akbar.

BALIEXPRESS.ID – Pernikahan mewah putra sulung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Maulana Akbar, dengan Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, berubah menjadi duka mendalam.

Acara pesta rakyat yang digelar sebagai bagian dari rangkaian pernikahan tersebut menyebabkan tiga orang meninggal dunia, delapan luka berat, dan 19 orang lainnya terluka ringan.

Maulana Akbar, dalam pernyataan yang penuh emosional, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat, terutama keluarga korban. Ia menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi di luar kendali dan tanpa unsur kesengajaan.

“Kami tidak pernah berniat menyakiti siapa pun. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, terutama kepada keluarga korban. Ini menjadi pelajaran besar bagi kami,” ujarnya sambil menahan tangis, Minggu (20/7/2025).

Maulana menjelaskan bahwa ide membagikan makanan secara gratis muncul secara spontan karena banyak warga sudah berkumpul sejak siang untuk menyaksikan malam hiburan. Niatnya, kata dia, semata-mata agar warga tidak menunggu dalam keadaan lapar.

“Melihat warga sudah berdiri lama, kami pikir daripada makanan terbuang, lebih baik kami bagikan saja. Tapi saya tidak menyangka hal ini bisa berkembang menjadi ricuh,” jelasnya.

Maulana mengaku masih menyelidiki penyebab kericuhan yang terjadi, terutama bagaimana informasi soal pembagian makanan gratis bisa menyebar cepat hingga menyebabkan kerumunan besar dan desak-desakan.

Dalam kesempatan yang sama, sang istri, Putri Karlina, yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Garut, turut menyampaikan rasa duka dan bela sungkawa kepada seluruh korban.

“Saya sungguh menyesal dan berduka. Hari yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidup saya berubah menjadi tragedi. Tidak ada sedikit pun niatan menyakiti atau menyebabkan kehilangan nyawa,” ungkapnya.

Putri menjelaskan bahwa sebagai pejabat publik, dirinya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyelenggarakan pesta rakyat yang inklusif dan tidak mengganggu aktivitas warga.

Namun ia mengakui bahwa menciptakan ruang yang aman di tengah keramaian memang bukan perkara mudah.

“Saya ingin masyarakat bisa merasakan kebahagiaan kami. Karena itu saya berjuang agar acara ini tidak mengganggu warga. Tapi musibah ini menjadi pukulan keras yang tak kami sangka,” pungkasnya.

Tragedi ini kini menjadi sorotan publik nasional dan pemicu diskusi tentang pentingnya manajemen massa dan mitigasi risiko dalam acara besar, khususnya pesta rakyat yang terbuka untuk umum.

Aparat berwenang saat ini masih melakukan pendalaman terkait mekanisme pengamanan dan penyebab pasti jatuhnya korban. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#PETAKA #putra sulung #tewas #minta maaf #Wabup Garut #dedi mulyadi #pernikahan