Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Catat! Rangkaian Kasada dan Piodalan Pura Luhur Poten Bromo 2026 Digelar Bertahap, Libatkan Desa-Desa Tengger

I Putu Mardika • Minggu, 17 Mei 2026 | 10:17 WIB
Suasana Pujawali saat dipimpin Dukun Pandita di Pura Luhur Poten Bromo serangkaian yadnya Kasada pada tahun 2025 lalu (I Puut Mardika/Bali Express)
Suasana Pujawali saat dipimpin Dukun Pandita di Pura Luhur Poten Bromo serangkaian yadnya Kasada pada tahun 2025 lalu (I Puut Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID – Rangkaian Piodalan Pura Luhur Poten Bromo, Probolinggo dalam perayaan Purnama Kasada 1948 Çaka atau tahun 2026 Masehi akan digelar secara bertahap mulai 24 Mei hingga 1 Juni 2026. Berbagai desa di kawasan Tengger dilibatkan dalam persiapan hingga pelaksanaan yadnya sebagai bentuk gotong royong dan penguatan spiritual masyarakat Hindu Tengger.

Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo, Drs. Bambang Suprapto menjelaskan bahwa seluruh rangkaian piodalan merupakan bagian penting dari pelaksanaan Yadnya Kasada yang selama ini menjadi ritual sakral masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo.

“Piodalan di Pura Luhur Poten bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi bagian dari upaya menjaga kesucian alam, tradisi leluhur, dan harmoni kehidupan masyarakat Tengger,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali pada Minggu Legi, 24 Mei 2026 dengan prosesi Semeninga Wiwit atau Nancep Karya yang dilaksanakan oleh Desa Ngadisari. Tahapan ini menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian karya suci di Pura Luhur Poten Bromo.

Selanjutnya pada Jumat Legi, 29 Mei 2026 dilaksanakan sejumlah ritual mendak tirta dari berbagai sumber mata air suci yang memiliki nilai spiritual penting bagi masyarakat Tengger. Di antaranya Mendak Tirta Widodaren yang dilaksanakan oleh Desa Wonomerto, kemudian Mendak Tirta Madakaripura dan Sumber Semanik yang melibatkan Mangku Ngadas, Probolinggo, serta Ngadisari.

Selain itu juga dilakukan Mendak Tirta Merumoyo oleh Mangku Sumber, Mendak Tirta Ranupani oleh Mangku Ranupani, dan Mendak Tirta Sumber 7 oleh Mangku Ngadas Malang. Pada hari yang sama juga dilaksanakan Atur Suguh atau matur piuning di Kabuyutan Tengger yang melibatkan desa-desa petugas.

Menurut Bambang Suprapto, prosesi mendak tirta memiliki makna penyucian sekaligus pengambilan energi spiritual dari sumber-sumber mata air yang diyakini suci oleh masyarakat Tengger.

Baca Juga: Jelang Yadnya Kasada 2026, Paruman Dukun Pandita Tengger Keluarkan Aturan Khusus bagi Pengunjung

“Tirta menjadi simbol kehidupan dan kesucian. Karena itu pengambilannya dilakukan dengan penuh etika ritual dan dipimpin para mangku,” jelasnya.

Memasuki Sabtu Paing, 30 Mei 2026, rangkaian dilanjutkan dengan ritual Rakatawang, Nurunen atau Mekala, serta pembejian. Dalam prosesi ini sejumlah sarana upacara seperti dandanan, ketipung, dan balaganjur dipersiapkan oleh desa-desa yang bertugas, di antaranya Wanatara, Ngadiwono, Kalitejo, Sedaeng, Keduwung, hingga Ngadisari.

Puncak Piodalan berlangsung pada Minggu Pon, 31 Mei 2026. Berbagai banten dan sarana upacara disiapkan secara gotong royong oleh masyarakat desa adat Tengger. Dalam rangkaian tersebut terdapat persembahan dandanan untuk arepan sulinggih, pemangku, tamping, hingga tari yang dipersiapkan Desa Ngadiwono.

Selain itu terdapat pula ritual Caru Panca Sata dari Desa Jetak sebagai simbol harmonisasi alam semesta dan penyucian bhuana agung maupun bhuana alit. Desa Wonokitri juga menyiapkan pajegan buah, palawija mentah, mateng, hingga pajekan jajan sebagai bagian dari persembahan yadnya.

Sementara Desa Kalitejo bertugas menyiapkan beraspitrah dan ajang tamping, sedangkan Desa Ngadisari dan Wonokitri menyiapkan ketipung serta balaganjur untuk mendukung suasana sakral ritual.

“Semua desa memiliki tanggung jawab spiritual masing-masing. Ini mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Tengger dalam menjaga warisan budaya dan agama,” kata Bambang Suprapto.

Baca Juga: Bali United vs Bhayangkara Sarat Cerita, “Reuni”  Spaso–Privat di Stadion Dipta

Setelah puncak piodalan selesai, rangkaian ditutup pada Senin Wage, 1 Juni 2026 melalui ritual Nyinep atau Nglebar yang dilaksanakan Desa Mororejo. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian karya di Pura Luhur Poten Bromo.

Bambang Suprapto menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat lintas desa dalam setiap tahapan ritual menunjukkan bahwa tradisi Kasada bukan sekadar agenda budaya dan pariwisata, melainkan ruang pemersatu identitas spiritual masyarakat Tengger.

Ia juga berharap seluruh umat dan pengunjung yang hadir selama pelaksanaan Kasada dapat menjaga kesucian kawasan Bromo, menghormati jalannya ritual, serta ikut menjaga kebersihan lingkungan.

“Kasada adalah warisan leluhur yang hidup. Kesakralannya harus dijaga bersama agar nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Tengger tetap lestari untuk generasi mendatang,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Luhur Poten Bromo #tengger #hindu #kasada