Tiga Belas Anak Ikuti Ruwatan Rambut Gimbal di Candi Arjuna Dieng, Permintaan Wajib Dipenuhi

I Putu Mardika • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:22 WIB
Lilia  Chandra Kusuma, saat mengikuti proses ruwatan rambut gimbal di Candi Arjuna, Dieng-Banjarnegara, Jawa Tengah pada Sabtu (29/8) siang (I Putu Mardika/Bali Express)
Lilia Chandra Kusuma, saat mengikuti proses ruwatan rambut gimbal di Candi Arjuna, Dieng-Banjarnegara, Jawa Tengah pada Sabtu (29/8) siang (I Putu Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID-Sebanyak 13 anak mengikuti tradisi Ruwatan Rambut Gimbal di komplek Percandian Arjuna, di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Sabtu (29/8) pagi.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) sebelum mengikuti prosesi potong rambut gimbal, belasan anak-anak yang berasal dari Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara itu terlebih dahulu mengikuti kegiatan kirab budaya bersama pewrakilan Gubernur Jawa Tengah, Bupati-Wakil Banjarnegara dan Tokoh Adat.

Ribuan penonton yang datang dari berbagai wilayah Nusantara dan Mancanegara juga turut menyaksikan ritual rutin yang dilaksanakan setiap tahun, serangkaian gelaran Dieng Culture Festival (DCF) tersebut. Mereka berjejal memenuhi kawasan Candi Arjuna.

Ki Dono Mudo, 47 selaku Pemangku Adat Dieng mengatakan, sebelum melakukan ruwatan, orang tua anak harus memenuhi bebana. Dalam pengertian masyarakat Dieng, bebana adalah permintaan anak rambut gimbal yang dipercaya sebagai suara permintaan dari leluhur mereka.

Bebana tersebut disampaikan oleh anak rambut gimbal sebelum melaksanakan ruwatan dan orang tua wajib memenuhi bebana tersebut. Bebana menjadi syarat sebelum melaksanakan ruwatan agar dapat berjalan dengan lancar. Selain itu pemenuhan bebana juga mencegah terjadinya sakit pada anak rambut gimbal.

“Sebelum anaknya diruwat, orang tua wajib memenuhi permintaan sang anak. Tetapi, tidak boleh aneh-aneh permintaannya dan mampu dipenuhi oleh kedua orang tua. Nah, ada yang meminta kambing, ada yang meminta HP, Laptop bahkan sepeda dan mainan. Itu biasa,” katanya.

Setelah itu, para tokoh adat yang sudah berkumpul melaksanakan proses Penjamasan kepada belasan anak yang akan diruwat. Mereka diperciki air untuk proses penyucian.

Penjamasan (pemandian) anak berambut gimbal bermakna sebagai pensucian. Dengan menambil 7 sumber mata air bertujuan untuk meminta izin agar acara dapat dilakukan dengan lancar.

Usai Penjamasan, barulah acara inti meruwat rambut gimbal dilaksanakan. Satu persatu anak dipanggil untuk dipotong rambutnya. Setelah dipotong, rambutnya ditaruh dalam tempayan yang terbuat dari tanah liat. Rambut itu nantinya dilarung di bale kambang, dekat kawasan Candi Arjuna.

Dijelaskan Ki Dono Mudo, para tamu undangan juga sering ditunjuk secara dadakan untuk memotong rambut gimbal.

“Tamu undangan dari kalangan pejabat terkadang diminta secara mendadak untuk memotong. Itu bagian dari pemintaan si anak,” paparnya.

Ia menambahkan Masyarakat Dieng hingga kini masih memiliki kepercayaan yang kuat terutama penghormatan terhadap leluhur. Kepercayaan tersebut kemudian berbaur dengan nilai-nilai Islam yang berkembang di tengah masyarakat.

Mereka meyakini bahwa keberadaan rambut gimbal pada anak bukan sekadar kondisi fisik, tetapi berkaitan dengan sesuker, yakni kesialan, kesedihan, maupun malapetaka yang dapat menimpa anak.

Atas dasar keyakinan tersebut, rambut gimbal pada anak perlu dipotong melalui sebuah ritual khusus. Setelah rambut gimbal dipotong, orang tua meyakini anaknya telah terbebas dari sesuker yang dipercaya dititipkan oleh Kyai Kolodete.

Tradisi potong rambut gimbal juga menjadi simbol hubungan yang erat antara leluhur, manusia, dan Tuhan. Ritual tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur dan terima kasih atas anugerah yang diterima.

Hal itu terlihat dalam penggunaan sarana Tumpeng lima yang memiliki makna sebagai lambang bakti dan cinta kasih kepada empat saudara yang menguasai hidup dan tidak terpisahkan dengan pusatnya (kiblat Papat Kalima Pancer) yang akan menjadi sarana mencapai hidup yang suci.

“Kiblat Papat Kalima Pancer dapat meliputi empat kiblat yang ada yaitu, timur, selatan, barat, utara,” ungkapnya.

Selanjutnya, rambut gimbal yang telah dipotong kemudian dilarung di Telaga Bale Kambang. Pelarungan potongan rambut gimbal menyimbolkan pengembalian kesialan (bala), kesedihan, dan malapetaka yang dibawa oleh sang anak kepada para dewa dan Nyi Roro Kidul.

Sementara itu. salah seorang anak bernama Laira Anindya Maryam, 11 dari Desa Krakal Tamanan Karangluhur, Kecamatan Kretek, Kabupaten Wonosobo tidak meminta hal berlebihan kepada orang tuanya. Ia hanya meminta rambutnya dipotong di Dieng.

“Anak saya tidak minta apa-apa. Dia hanya minta agar rambutnya dicukur di sini (Dieng, Red). Dulu sempat dicukur, tetapi tumbuh lagi. Sempat sakit saat duduk di Kelas 4 SD,” singkat Rizqi Nur. (dik)

Editor : I Putu Mardika
Ruwatan Rambut Gimbal Percandian Arjuna jawa tengah