Melalui Youtube Kanal Anak Bangsa, penggiat media sosial, Rudi S Kamri pun ikut menyoroti video yang ramai beredar tentang Anies Baswedan yang diberi nama Yohanes. Dalam video yang diunggah, Selasa (27/12), Rudi mengatakan, nama Yohanes merupakan nama yang identik dengan pembabtisan. Namun dari video yang beredar, Anies tidak dibaptis secara ritual namun dibabtis secara sosial.
“Anies secara sosial bukan secara ritual sudah dibaptis bernama Yohanes di Papua,” ujarnya.
Hal ini menjadi sangat menarik bagi Rudi, sebab ia menilai selama ini para pendukung fanatik Anies adalah kelompok-kelompok intoleran.
“Bagaimana respons para pendukung Yohanes Anies Baswedan seperti Abdul Somad, Adi Hidayat, Khalid Basalamah melihat hal ini. Mereka kan gemar sekali mengkafir-kafirkan orang lain. Seolah-olah orang lain yang beragama selain Islam itu pasti kafir,” tanyanya.
Lebih lanjut, Rudi mengaku harus mengelus dada sebab ia melihat Anies Baswedan menghalalkan segara cara untuk meraih dukungan. Menurut Rudi, saat Anies masuk ke rumah Tuhan dan diberikan nama Yohanes, hal itu sudah masuk ke ranah politik identitas berbasis agama.
“Agamanya apa Kristen karena di Papua. Kita tinggal menunggu saja apa tanggapan dari kelompoknya Anies,” papar Rudi.
Dengan nada berseloroh, Rudi menilai nama Yohanes Anies Baswedan ini bukan nama yang jelek, melainkan nama yang bagus. “Nama itu doa, dan ini saya yakin penuh dengan doa dari orang-orang yang ‘mentabiskan’ Anies menjadi Yohanes. Cuma saya menunggu dengan tersenyum konsistensi dari kelompok-kelompok atau ustazd-ustazd pendakwah agama yang sering mengkafirkan orang lain, meledek agama lain, dengan penamaan Yohanes Anniversary. Mereka masih konsisten atau tidak? Atau mereka memberikan pengecualian kepada calon presiden Yohanes Anies Baswedan? Saya tidak tahu. Kalau (pengecualian) ini terjadi, dapat disimpulkan bahwa pengkafiran mereka atau ledekan mereka kepada umat beragama lain, terutama Kristen/Katolik itu bermuatan politik,” sindir Rudi.
Sebagai politisi, kata Rudi, seharusnya Anies Baswedan memberikan pemahaman kepada para pendukungnya bahwa penamaan Yohanes Anies Baswedan itu sudah masuk wilayah agama lain. “Berbeda halnya kalau Anies dikasih nama sultan atau mungkin bagindo, itu penamaan adat yang tidak ada sangkut-pautnya dengan keagamaan. Tapi kalau Yohanes, itu terang benderang adalah nama baptis, nama yang biasanya disematkan pada saat orang dibaptis. Sekali lagi saya katakan ini bukan baptis secara ritual keagamaan, tapi penamaan baptis secara sosial. Saya tidak tahu pembedanya di mana, karena Anies juga tidak pindah agama,” paparnya.
“Anies memang sedang menyerahkan diri dibuat apa saja oleh kelompok apa saja, asalkan mendapat dukungan. Nah, ini adalah ciri khas opportunisme dan pragmatisme seorang politisi, tidak mempunyai sikap, tidak mempunyai keteguhan iman, pokoknya pun, siapapun, bagaimanapun, asal mendukung dia, dilakukan. Apa bedanya dengan pelacur politik ya? Saya tidak tahu. Apakah Anies sudah berubah seperti itu, saya tidak tahu juga. Yang jelas ini menjadi catatan bagi pendukung Anies bahwa sekarang Anda semua harus menyebut calon presiden Anda dengan nama Yohanes Anis Baswedan. Masyarakat Papua juga sudah mempunyai warga baru yang bernama Yohanes Anies Baswedan,” tandas Rudi. Editor : Nyoman Suarna