DENPASAR, BALI EXPRESS – Selain seorang seniman, Sukmawati Soekarnoputri merupakan seorang politisi.
Pada tahun 1998, Sukmawati Soekarnoputri membangkitkan Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan nama PNI Soepeni.
Namun, selang 4 tahun partai pimpinan Sukmawati Soekarnoputri tersebut berganti nama menjadi PNI Marhaenisme. Ia pun dipilih sebagai ketua umum partai tersebut.
Dalam pemilihan umum tahun 1999, partai tersebut hanya memperoleh 0,36 persen suara.
Pasalnya dikarenakan performa yang kurang baik, pada tahun 2002 partai ini berganti nama menjadi Partai Marhaenisme dengan posisi ketua umum dijabat oleh Sukmawati.
Sementara itu dalam pemilihan umum 2004, partai ini hanya mampu mengamankan satu kursi pemerintah setelah memperoleh 0,81 persen suara.
Sedangkan terakhir pada pemilihan umum 2009, partai ini kehilangan kursi di pemerintah usai memperoleh 0,3 persen suara.
Kini, balihonya pun muncul di Bali. Dalam baliho tersebut ia maju ke DPR RI dapil Bali dari PDIP.
Terkait itu, Caleg DPR RI dari PDIP, Ketut Kariyasa Adnyana menyampaikan, adanya baliho Sukmawati ditanggapi santai.
Sebab sebagai kader partai yang juga sebagai caleg DPR RI sampai saat ini belum ada menerima Surat Keputusan (SK) resmi dari DPP partai.
Kariyasa Adnyana menyebutkan dalam pencalegan kader partai dan tokoh masyarakat, tentunya PDI Perjuangan telah memiliki aturan dan mekanisme yang jelas dan harus diikuti.
Sebagai kader partai, ada yang mendaftar, ada tokoh masyarakat yang dilirik yang semua itu berproses di DPD dan di DPP partai.
Munculnya nama Sukmawati Soekarnoputri, menurut Kariyasa Adnyana sah-sah saja. Dirasakan sendiri belum ada kader yang menyampaikan rasa kecewa munculnya nama putri Proklamator Soekarno sebagai caleg DPR RI dari Dapil Bali.
Dia menambahkan, sebagai kader partai yang selalu taat dan tunduk dengan keputusan partai, tetap menjalankan tugas bagaimana memenangkan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2024.
Editor : I Putu Suyatra