BALI EXPRESS-Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dan Adian Napitupulu diingatkan agar tidak memperkeruh situasi politik menjelang Pemilihan Presiden 2024.
Peringatan ini muncul setelah pernyataan yang dilontarkan oleh Hasto Kristiyanto dan Adian Napitupulu terkait hubungan politik dinasti setelah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi berpasangan sebagai capres dan cawapres pada 2024.
Ketua Umum DPP Persaudaraan 98, Wahab Talaohu memperhatikan adanya inkonsistensi dalam sikap politik yang ditunjukkan oleh Hasto dan Adian.
Wahab yang juga mantan aktivis 98 menyinggung pernyataan Adian Napitupulu pada 23 Juli 2020, saat Adian mendukung pencalonan Gibran.
Menurut Wahab, Adian pada saat itu mendukung Gibran sebagai kandidat yang bertarung atas kemauannya sendiri, bukan karena jabatan yang diwarisi dari sang ayah, yang tak lain adalah Presiden Jokowi.
Pada waktu itu, ketika Gibran maju sebagai calon Walikota Surakarta pada Pilkada 2020, dia menjadi sasaran isu politik dinasti.
Putra sulung Presiden Jokowi maju sebagai calon walkot yang diusung oleh PDIP.
Wahab mengungkapkan bahwa keduanya, Hasto dan Adian, terlibat sebagai pendukung yang membela dan menolak isu politik dinasti pada saat itu.
Adian Napitupulu, dalam pernyataannya pada 23 Juli 2020, direspon oleh Hasto Kristiyanto dalam acara pembekalan Sekolah Partai yang dihadiri oleh calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah secara virtual pada 24 Juli 2020.
Wahab mengungkapkan kekecewaannya terhadap perubahan sikap politik yang kontradiktif yang ditunjukkan oleh Hasto dan Adian terhadap Pilwakot Surakarta, dari dukungan penuh sebelumnya hingga perubahan arah dengan mengaitkan isu politik dinasti pada Jokowi dan Gibran.
Wahab mengecam perubahan sikap tersebut, menduga bahwa perubahan ini mungkin disebabkan oleh Gibran yang berpasangan dengan Prabowo.
Menurut Wahab, keputusan ini mungkin dilatarbelakangi oleh keyakinan PDIP bahwa pasangan Prabowo-Gibran adalah pasangan yang akan menang.
Akibatnya, menurut Wahab, Hasto dan Adian beralih menyerang Gibran dan keluarga Jokowi dengan isu politik dinasti.
"Ini adalah tindakan inkonsistensi dan paranoia dari PDI Perjuangan yang diperlihatkan kepada publik," tegas Wahab Talaohu dikutip dari pojoksatu.id. (*)
Editor : Suharnanto Bali Express