Video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa warga di berbagai daerah mengaku siap rumahnya dipasangi baliho Ganjar Pranowo.
Dalam sebuah video, warga di Kecamatan Ulujami, Pemalang, menyatakan kesiapan bila rumahnya dipasangi baliho Ganjar Pranowo. Lantaran ia merasa sedih baliho, spanduk, maupun banner Ganjar Pranowo banyak dicopoti oleh pihak tertentu.
Baca Juga: Kualifikasi Piala Dunia 2026: Lawan Indonesia Hanya ‘Pemanasan’ Bagi Irak, Warganet Tersulut Emosi
“Melihat banyaknya baliho Ganjar dicopotin, saya sangat sedih. Saya siap rumah saya untuk dipasang balihone Mas Ganjar. Silakan untuk dikirimkan ke Mas Ganjar. Terima kasih,” katanya dikutip dari Fajar.co.id, Selasa (14/11).
Selain video, banyak pula foto-foto yang beredar berisi tulisan pada kertas atau media lainnya, berisi pernyataan senada. Misalnya, foto yang diambil dari sebuah rumah di wilayah Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar). Dalam foto itu terdapat tulisan: ‘Rumah ini sangat siap dipasangi baliho Ganjar-Mahfud’.
Tak hanya beredar secara berantai melalui layanan perpesanan WhatsApp (WA), video dan foto serupa juga viral di media sosial (medsos), khususnya paltfrom X atau Twitter.
Diberitakan sebelumnya, baliho Ganjar-Mahfud sempat dicopot oleh pihak tertentu di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk jelang kedatang Ganjar di Pematang Siantar, Sumut.
Baca Juga: Panca Nur dan Samuel Christianson di-Loan ke PSIM Yogyakarta Demi Menit Bermain
Hal ini memantik reaksi Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud. Deputi Hukum TPN Ganjar-Mahfud, Todung Mulya Lubis, menyayangkan aksi pencopotan tersebut. Todung menyebut, aksi tersebut membuat banyak pihak marah. Sebab, aksi dari aparatur negara tersebut mencederai demokrasi.
“Begitu banyak kejadian yang mencederai proses demokrasi, Kami sangat kesal dan marah,” kata Todung di Jakarta, Sabtu (11/11/2023).
Todung mempertanyakan, dari sekian banyak baliho bakal pasangan capres-cawapres, mengapa yang disasar adalah milik Ganjar-Mahfud. Karenanya, Todung mengajak semua elemen masyarakat untuk turut mengawasi.
“Kita harus terus menerus berteriak soal netralitas aparat,” ujarnya.
Editor : Wiwin Meliana