TABANAN, BALI EXPRESS- I Putu Eka Putra Nurcahyadi saat ini duduk di Komisi l DPRD Tabanan.
Pada pada perhelatan Pemilu Legislatif (Pileg) 2024, Eka Nurcahyadi kembali mencalonkan diri untuk DPRD Tabanan dari dapil Marga.
Perolehan suaranya pun sangat tinggi untuk ukuran caleg DPRD kabupaten di Bali. Eka Nurcahyadi memperoleh 17 ribu suara.
Jika dilihat dari perolehan suaranya selama terjun dalam kontestasi politik sejak tahun 2014 lalu, konsisten mengalami kenaikan.
Pada Pileg 2014 Eka Nurcahyadi mendapat sekitar 10.020 suara, kemudian meningkat menjadi 15.172 suara.
Angka 17 ribu lebih pada perolehan suara Eka Nurcahyadi ini berdasarkan penghitungan internal PDI Perjuangan Tabanan hitungan real dari tim Eka Nurcahyadi.
Dengan 17 ribu suara ini menjadi prestasi tersendiri bagi politikus PDI Perjuangan ini, pasalnya ia menjadi peraih suara terbanyak di Bali untuk DPRD kabupaten.
Ketika dihubungi Rabu 21 Februari 2024, ia menyatakan jika kunci dari perolehan suara tinggi adalah konsistensi dalam menjalankan program-program ke masyarakat, khususnya yang ada di dapilnya.
“Iya sekarang perolehan suaranya naik dari sebelumnya 15.172 pada 2019 lalu. Sekarang juga saya sudah membagi banjar binaan ke teman yang lain. Saya hanya fokus ke 37 banjar saja,” jelasnya.
Selain itu, Eka Nurcahyadi juga menyebutkan bahwa dalam kampanye selama ini, pihaknya juga konsisten untuk merangkul generasi muda untuk berperan aktif dalam proses demokrasi.
"Dalam hal merangkul generasi muda ini, kami di sini berusaha untuk mendengarkan mereka, memberikan sudut pandang supaya mereka tahu akan sejarah. Tidak tergiur iming-iming dari luar," lanjutnya.
Adapun alasan kenapa Eka Nurcahyadi lebih merangkul anak muda ini, karena menurutnya generasi muda atau pemilih pemula merupakan salah satu tantangan terbesar dalam Pemilu 2024.
Karena secara nasional 20 persen suara pemilih berasal dari golongan muda yang menurutnya merupakan generasi yang mampu memberikan pilihannya tersendiri.
Hal ini menurutnya karena para pemilih pemula ini merupakan generasi yang memiliki kemampuan analisa dari akses informasi yang dimiliki oleh anak muda saat ini.
Sehingga dalam menentukan pilihannya, para anak muda ini kadang kala tidak bisa dipengaruhi.
"Contohnya saat ini dalam memiliki partai generasi muda bisa memilih partainya tapi pilihannya untuk presiden berbeda. Beruntungnya kami di Marga bisa linier karena sejak beberapa waktu lalu kami sudah melakukan pendekatan, dan memberikan informasi yang logis kepada mereka sehingga mereka bisa melakukan analisanya," tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan