SINGARAJA, BALI EXPRESS - Semakin dekatnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk Bursa Calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng telah menyulut kegembiraan politik di Gumi Den Bukit.
Sejumlah nama mulai mencuat ke permukaan, memperkaya persaingan dan memicu pertanyaan tentang siapa yang akan memimpin kota ini ke depan.
Mayoritas nama yang muncul adalah politisi berpengalaman, dengan sebagian besar berasal dari PDI Perjuangan.
Dr. Nyoman Sutjidra, Sp.Og, mantan Wakil Bupati Buleleng pada periode 2012-2017 dan 2017-2022, adalah salah satu di antaranya.
Pendukungnya pun telah membentuk Relawan Joss (Jengah Optimis Sukseskan Sutjidra) pada Senin (8/4) yang lalu, menandai langkah awal menuju pertarungan politik yang semakin intens.
Sementara itu, politisi lain seperti Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng dua periode asal Tejakula, juga mencuat sebagai calon potensial.
Namun, kejutan tak terduga juga datang dari berbagai arah.
Istri dari Bupati Buleleng periode 2012-2017 dan 2017-2022, I Gusti Ayu Mas Aries Sujati, yang kini masih menjadi Anggota DPRD Bali, menjadi salah satu nama yang sering disebut-sebut.
Tak ketinggalan, tokoh non-partisan seperti Ketut Ariani dari Bawaslu Bali juga membuat gebrakan dengan kemunculannya dalam bursa kandidat.
Menyikapi kehadiran beragam kandidat, Peneliti Menjangan Institut, Komang Agus Widiantara, M.I.Kom, menyoroti dinamika demokratisasi yang semakin menggeliat di Buleleng menjelang Pilkada.
"Kehadiran beberapa kandidat memberikan pilihan yang lebih luas bagi pemilih, memungkinkan mereka untuk memilih berdasarkan preferensi dan penilaian masing-masing," ungkapnya.
Widiantara menekankan pentingnya para kandidat untuk tidak hanya tampil secara normatif, melainkan juga menawarkan ide-ide konstruktif yang mampu membangun Buleleng ke arah yang lebih baik.
Dengan pengalaman dari Pilpres dan Pileg 2024, ia menegaskan bahwa ide-ide baru dari kandidat baru sangat dibutuhkan.
"Publik menginginkan pemimpin yang tidak hanya menawarkan program-program electoral, tetapi juga fokus pada agenda pendidikan, ekonomi, layanan publik, dan digitalisasi," tambahnya.
Dengan semakin dekatnya Pilkada pada November 2024, pertarungan politik di Buleleng diprediksi akan semakin memanas, sementara harapan publik untuk mendapatkan pemimpin yang visioner dan progresif semakin membesar. ***