BALIEXPRESS.ID - Politisi senior Partai Golkar Kabupaten Badung, Luh Gede Sri Mediastuti kini dipastikan telah meninggalkan partai yang membesarkan namanya.
Srikandi asal Kuta ini pun memantapkan diri untuk bergabung dengan PDIP.
Bahkan mantan anggota DPRD Badung in diberikan kepercayaan sebagai Bendahara PAC PDIP Kecamatan Kuta.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Melepas Purna Tugas Kepala Perangkat Daerah di Pemkab Badung
Politisi yang akrab disapa Luh De ini mengatakan, sebelum berlabuh di partai berlambang banteng dirinya telah melakukan pertimbangan dengan matang.
Ia pun menepis anggapan bahwa langkah tersebut dilakukan secara tergesa-gesa atau emosional.
“Saya menegaskan bahwa keputusan saya untuk bergabung dengan PDIP bukanlah keputusan yang diambil secara singkat atau emosional. Ini adalah proses panjang yang lahir dari perenungan, dialog batin, serta pertimbangan nilai dan arah pengabdian ke depan,” ujar Luh De, Senin (5/1).
Baca Juga: Ketua DPC PDI Perjuangan Badung I Nyoman Giri Prasta Buka Musancab se-Kabupaten Badung
Pihaknya menyebutkan, apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada Partai Golkar, yang selama ini menjadi rumah politiknya.
Ia pun mengaku, banyak pelajaran berharga yang diperoleh selama berproses di partai berlambang pohon beringin tersebut.
“Banyak proses pembelajaran, pengalaman, dan nilai-nilai kedisiplinan politik yang saya dapatkan di Golkar. Hubungan baik dan rasa hormat itu akan selalu saya jaga,” tegasnya.
Baca Juga: Capaian Swasembada Pangan 2025: Pilar Kedaulatan Ekonomi Era Prabowo-Gibran
Luh De juga menekankan bahwa kepindahannya bukan dilatarbelakangi kekecewaan, apalagi praktik politik kutu loncat.
Menurutnya, langkah ini merupakan ikhtiar untuk melanjutkan pengabdian dengan ruang dan pendekatan yang lebih sejalan dengan idealisme serta kebutuhan masyarakat saat ini.
“Politik bagi saya bukan soal berpindah kendaraan, tetapi tentang konsistensi memperjuangkan kepentingan rakyat. PDIP saya pandang sebagai rumah ideologis yang memberi ruang luas bagi perjuangan kerakyatan, kebangsaan, dan keberpihakan pada wong cilik,” paparnya.
Luh De berharap publik dapat memandang kepindahannya sebagai dinamika demokrasi yang wajar, dewasa, dan beretika.
Perbedaan pilihan politik, menurutnya, tidak seharusnya memutus persaudaraan. “Tujuan kita tetap sama, bekerja untuk rakyat dan daerah yang kita cintai,” paparnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Ketut Agus Nadi Putra pun membenarkan Luh De telah mengundurkan diri dari kepengurusan Golkar.
Pengusuran ini disampaikan sejak beberapa waktu lalu.
“Yang bersangkutan sudah mengundurkan diri dari kepengurusan Partai Golkar sejak masa Pilkada. Secara pribadi itu wajar-wajar saja, karena merupakan hak politik setiap individu,” ujar Turah Tut.
Pihaknya menegaskan, Partai Golkar menghormati pilihan politik Luh De selama tetap berada dalam koridor ideologi kebangsaan.
Terlebih hal tersebut pun merupakan hak politik yang harus dihormati.
“Ke mana pun beliau berlabuh, selama partainya berideologi NKRI dan nasionalis, tentu kami apresiasi. Itu hak politik pribadi yang harus dihormati,” jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga