BALIEXPRESS.ID – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi menghadapi ancaman Super El Nino yang diperkirakan berdampak pada ketahanan pangan nasional. Berbagai upaya antisipasi terus dipercepat, mulai dari penguatan cadangan pangan, optimalisasi pengelolaan sumber daya air, hingga peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas produksi pertanian di tengah potensi penurunan curah hujan akibat musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah daerah agar mengoptimalkan program pompanisasi sebagai strategi utama menghadapi dampak musim kemarau. Program ini dinilai mampu menjaga pasokan air bagi lahan pertanian sehingga produktivitas pangan tetap terjaga.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengatakan pembangunan embung dan optimalisasi pompanisasi menjadi prioritas pemerintah dalam mengantisipasi dampak Super El Nino.
"Kemudian pembangunan embung, dan ini dia yang dititipkan oleh Bapak Presiden dan Pak Mendagri, yaitu program pompanisasi. Pompanisasi untuk menyalurkan air dari irigasi yang ada dari waduk, bendungan, dan lain-lain, itu penting sekali," kata Bima Arya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah meminta seluruh kepala daerah segera memperkuat mitigasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Upaya tersebut mencakup memastikan ketersediaan cadangan pangan daerah, mempercepat pelaksanaan program pompanisasi, mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk menghadapi potensi kekeringan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengingatkan bahwa dampak fenomena El Nino mulai terlihat melalui penurunan curah hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi kering yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan sektor pertanian.
Menurutnya, dampak yang perlu diwaspadai tidak hanya berupa kekeringan meteorologis, tetapi juga berkurangnya ketersediaan air baku, menurunnya kelembapan tanah, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah mitigasi sejak dini. Antisipasi yang cepat dinilai penting untuk mengurangi potensi kerugian ekonomi maupun dampak sosial apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
"Pengelolaan sumber daya air secara bijaksana, peningkatan kesiapsiagaan terhadap karhutla, serta pemanfaatan informasi iklim BMKG dalam perencanaan kegiatan di berbagai sektor menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak musim kemarau," ujarnya.
Pemerintah optimistis sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah akan mampu memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman Super El Nino. Dengan mitigasi yang terencana, produktivitas pertanian dapat dipertahankan, risiko kekeringan dan karhutla dapat ditekan, serta masyarakat tetap terlindungi dari dampak perubahan iklim ekstrem.
Editor : I Putu Suyatra