Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Piala Porprov Bali XIV 2019 Dibuat Perajin Ukiran asal Marga

I Putu Suyatra • Rabu, 28 Agustus 2019 | 04:25 WIB
Piala Porprov Bali XIV 2019 Dibuat Perajin Ukiran asal Marga
Piala Porprov Bali XIV 2019 Dibuat Perajin Ukiran asal Marga


BALI EXPRESS, TABANAN - Piala Porprov Bali XIV 2019 yang digelar di Kabupaten Tabanan dibuat oleh seniman ukir asal Marga dengan bentuk miniatur jineng yang merupakan bangunan khas bumi lumbung berasnya Bali. 


 


I Made Umbara Yasa, 41, menuturkan bahwa awal mula dirinya bisa mengerjakan pembuatan piala untuk Porprov Bali XIV 2019 adalah ketika salah seorang saudaranya yang menjadi pengurus di cabang olahraga (cabor) Kempo Tabanan sehingga sering datang ke KONI Tabanan. Dari sana lah ia mendapatkan informasi bahwa panitia Porprov tengah mencari orang yang mampu membuat piala Porprov. 


 


Akhirnya pria asal Banjar Kuwum Tegallinggah, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Tabanan itu pun dihubungi pihak panitia untuk membuat piala Porprov Bali XIV 2019. "Setelah itu saya rembug dengan panitia untuk menentukan desain piala," ujarnya Selasa (27/8).


 


Karena Porprov Bali XIV 2019 digelar di Tabanan maka dibuatlah desain piala yang merupakan ciri khas Tabanan yakni miniatur Jineng. Dengan keahlian yang dimiliki pria yang akrab disapa Rawin tersebut, ia bisa mengerjakan satu piala dengan waktu 8 sampai 10 hari. "Akhirnya diputuskan untuk membuat piala dengan desain Jineng yang merupakan ciri khas Tabanan, dengan pengerjaan 1 piala bisa 8 sampai 10 hari," paparnya.


 


Kendati pun diputuskan berkonsep Jineng, namun Rawin harus tetap memutar otak dan mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk membuat desain piala tersebut. "Kita diberikan konsepnya saja, desain tetap harus saya fikirkan agar pialanya terlihat bagus, apalagi membuat miniatur memang agak sulit agar persis seperti aslinya," sambungnya.


 


Ia pun membuat piala tersebut dari bahan kayu jati. Dimana piala untuk Juara Umum I dibuat setinggi 70 sentimeter, Juara Umum II setinggi 65 sentimeter dan Juara Umum III setinggi 60 sentimeter. "Total ada 3 piala tetap Juara Umum ditambah 4 Tropi yang saya buat, denhan rincian untuk atlet putra terbaik, atlet putri terbaik, kontingen favorit dan untuk kenang-kenangan di KONI Tabanan," jelasnya.


 


Sementara itu, Sekum KONI Tabanan, Made Nurbawa menjelaskan bahwa dengan dilaksanakannya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali XIV 2019 di Tabanan salah satu tugas yang harus disiapkan adalah pengadaan Piala Tetap untuk juara Umum I, II dan III, termasuk Tropy  untuk Atlet Terbaik Putra, Atlet Terbaik Putri dan Kontingen Favorit. "Untuk itu panitia berharap Piala Tetap yang diberikan kepada sang Juara Umum adalah piala yang selaras dengan ciri khas kabupaten Tabanan, Motto dan Juga spirit yang hendak diusung oleh tuan rumah Tabanan," tegasnya.


 


Maka dari itu pihak panitia pun menyiapkan beberapa kriteria yang melatarbelakangi pembuatan piala yaitu harus sesuai dengan tema Porprov Bali XIV 2019, sesuai dengan motto yakni Sport, Tourism and Culture, sesuai dengan potensi Tabanan yang agraris, pengrajin wajib asal Tabanan dan minimal sudah berprofesi dibidangnya lebih dari 20 tahun. "Dan kebetulan tanggal 11 Mei 2019 kemarin kita berkenalan dengan seorang pengrajin melalui media sosial, kemudian kami menyampaikan rencana pembuatan Piala Porprov, dan mendapat petunjuk awal alamat pengukir hingga akhirnya kami berkunjung ke Desa Kuwum tetapi belum bertemu dengan pengrajin," paparnya.


 


Kendatipun belum bertemu, pada tanggal 21 Mei 2019 malam sketsa awal dibuat oleh KONI dan dibuat juga oleh Pengrajin. Lalu tanggal 22 Mei 2019 Rawin datang Ke Kantor KONI untuk pertama kalinya dan berdiskusi tentang design piala hingga akhirnya sepakat mengambil bentuk Jineng atau Lumbung. 


 


Sebenarnya, kata Nurbawa rencana membuat piala tetap untuk Porprov 2019 sudah tercetus sejak lama. Piala diharapkan dibuat khusus dari kayu dengan melibatkan pengrajin lokal asal Tabanan. Namun seperti apa bentuknya dan siapa yang harus menggarap sempat lama terbenam, hingga akhirnya perburuan pun dilakukan melibatkan berbagai pihak. "Dan akhirnya pintu informasi mulai terkuak, setelah seseorang memberi tahu melalui media sosial. Termasuk salah satu pembina cabor Kempo yang mengenal pengerajin ini sehingga kita bisa menghubungi Pak Rawin ini," sambungnya.


 


Rawin sendiri merupakan pria yang lahir di Desa Kuwum Kecamatan Marga Tabanan pada Tanggal 22 Juli 1978.  Rawin mulai belajar mengukir sejak SMP kelas 1, dan saat kelas dua SMP Rawin sudah berani mengambil borongan ukiran kayu dari beberapa warga. Artinya pada tahun 2019 ini Rawin sudah menggeluti profesinya hampir 27 tahun. Darah seni Pak Rawin mengalir dari orang tuanya yang juga seorang pengukir kayu.


 


Rawin pernah menempuh sekolah di SDN 2 Kuwum Marga, lalu pindah dan lulus di SDN 1 Kuwum Marga. SMP ia selesaikan di SMPN 1 Marga, dan lulus di SMA TP 45 Tabanan.


 

Editor : I Putu Suyatra
#tabanan