Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Alasan Rivalitas Persija dengan Persib Dijuluki El Clasico Indonesia, Lengkap dengan Sejarah Kedua Tim

I Dewa Made Krisna Pradipta • Rabu, 30 Agustus 2023 | 15:36 WIB
Pemain Persib Bandung Igbonefo (kiri) berebut bola dengan pemain Persija Jakarta Michael Krmencik (kanan) dalam laga pertandingan Liga 1 musim 2022/2023 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api
Pemain Persib Bandung Igbonefo (kiri) berebut bola dengan pemain Persija Jakarta Michael Krmencik (kanan) dalam laga pertandingan Liga 1 musim 2022/2023 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api

DENPASAR, BALI EXPRESS - Partai El Clasico Persija Jakarta vs Persib Bandung akan digelar pada pekan ke-11 Liga 1 Indonesia, Sabtu (2/9).

Duel Persija dan Persib Bandung ini selalu ditunggu-tunggu karena memiliki rivalitas yang panjang. Maka, pertemuan kedua tim sering disebut El Clasico.

El Clasico sendiri berasal dari partai Real Madred dan Barcelona di Spanyol. Bahkan, pertandingan urat saraf sering terjadi di luar lapangan. Lalu kenapa pertandingan Persija dan Persib juga disebut El Clasico?

Sebutan itu merujuk dari laga Persija Jakarta dengan Persib Bandung yang memiliki rivalitas tinggi.

Bukan hanya zaman Liga 1 saja, melainkan sudah sejak zaman Kolonial Belanda rivalitas Jakarta-Bandung sudah tersaji.

Dan rivalitas keduanya akan kembali tersaji di BRI Liga 1 2023/2024 di pekan ke-14 pada Sabtu 2 September 2023 mendatang di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan.

Dilansir dari Skor.id, sejarah mencatat pertemuan pertama kedua tim sudah terjadi saat era penjajahan Belanda di Indonesia.

Kala itu, Persija Jakarta masih bernama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), sedangkan Persib Bandung masih memakai nama Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB).

Untuk diketahui VIJ dan BIVB merupakan tim unggulan dalam periode tersebut.

Baik VIJ dan BIVB juga tercatat pernah bentrok dalam NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie) organisasi sepakbola tandingan PSSI zaman dulu di Semarang pada 29 Agustus 1914 hingga ke era Perserikatan.

 

Sejarah Persija Jakarta

Persija Jakarta didirikan oleh Soeri dan Alie pada 28 November 1928 dengan nama awal Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ). Berdirinya VIJ saat itu juga sebagai wadah berkumpulnya klub-klub sepak bola nasionalis di Batavia pada masa itu.

Nama VIJ berubah menjadi Persija pada tahun 1950 dengan Jusuf Jahja sebagai ketua.
Pasca-Republik Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, VIJ berganti nama menjadi Persija pada tahun 1950 dengan Jusuf Jahja sebagai ketua.

Saat masih bernama VIJ, markas Persija berada di Stadion VIJ.

Sejumlah nama ikut membesarkan klub ibu kota ini. Diantaranya tercatat dalam sejarah seperti nama M.H. Thamrin, yang diakui sebagai pahlawan nasional.

Selain itu ada juga nama Habib Ali Kwitang, yang tercatat ikut membesarkan Persija.

Pada saat itu, NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie) sebagai organisasi tandingan PSSI masih ada.

Di sisi lain, tim tandingan ‘kakek buyut’ Persija masa kini tersebut juga eksis yakni tim VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken).

Kemudian setelah Indonesia merdeka, NIVU kemudian bubar. Suasana tersebut akhirnya merembet ke anggotanya, antara lain VBO.

Pada pertengahan tahun 1951, VBO mengadakan pertemuan untuk membubarkan diri dan menganjurkan dirinya untuk bergabung dengan Persija.

Dalam perkembangannya, VBO akhirnya bergabung ke Persija. Dan fakta lainnya, Persija juga menjadi salah satu tim yang menginisiasi terbentuknya PSSI.

Memiliki julukan Macan Kemayoran, Persija merupakan tim sepak bola di Indonesia dengan latar belakang sejarah panjang sekaligus menjadi klub tersukses pada kompetisi PSSI dengan koleksi 11 gelar juara.

Diawali dari masa kompetisi sebelum kemerdekaan, Persija yang masih bernama VIJ meraih gelar juara pada 1931, 1933, 1934, dan 1938.

Memasuki masa Perserikatan, Persija meraih juara pada 1954, 1964, 1973, 1975, dan 1979.

Sedangkan di era profesional, Persija meraih dua kali juara, yakni pada 2001 dan 2018. Persija juga mencatatkan satu gelar Piala Presiden yakni 2018.

Gelar yang ditoreh Persija tidak hanya di level nasional, pada kompetisi internasional tim kebanggaan ibu kota juga meraih sejumlah piala.

Di antaranya juara Piala Quoch Khan di Vietnam pada 1973, juara Piala Sultan Brunei Darussalam 2000, juara Brunei Invitation Cup 2000 dan 2001 serta Boost SportFix Super Cup Malaysia 2018.

Dengan sejarah panjang, membuat Persija terus melahirkan dan dihuni pemain-pemain terbaik untuk Indonesia.

Mulai dari Tan Liong Houw, Sinyo Aliandoe, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris hingga generasi Bambang Pamungkas serta Ismed Sofyan.

 Baca Juga: Tak Pernah Menang 4 Laga Beruntun, Akun Presiden Persija Jakarta Diserbu Suporter

Sejarah Persib Bandung

Sebelum lahir nama Persib, pada tahun 1923 di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB).

BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakn IR. Atot.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain bernama Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB).

Pada 14 Maret 1933 kedua klub itu sepakat melebur dan lahirlah perkumpulan baru yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai ketua umum. Klub- klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Setelah tampil tiga kali sebagai runner up pada Kompetisi Perserikatan 1933 (Surabaya), 1934 (Bandung), dan 1936 (Solo), Persib mengawali juara pada Kompetisi 1939 di Solo.

Setelah Indonesia merdeka, pada 1950 digelar Kongres PSSI di Semarang dan Kompetisi Perserikatan.

Persib yang pada saat itu dihuni oleh Aang Witarsa, Amung, Andaratna, Ganda, Freddy Timisela, Sundawa, Toha, Leepel, Smith, Jahja, dan Wagiman hanya mampu menjadi runner-up setelah kalah bersaing dengan Persebaya Surabaya.

Pada tahun 50-an Aang Witarsa dan Anas menjadi pemain asal Persib pertama yang ditarik bergabung dengan tim nasional Indonesia untuk bermain di pentas Asian Games 1950.

Prestasi Persib kembali meningkat pada 1955-1957.

Munculnya nama-nama seperti Aang Witarsa dan Ade Dana yang menjadi wakil dari Persib di tim nasional untuk berlaga di Olimpiade Melbourne 1956.

Persib makin disegani. Pada Kompetisi 1961 tim kebanggaan “Kota Kembang” itu meraih juara untuk kedua kalinya setelah mengalahkan PSM Ujungpandang.

Materi pemain Persib saat itu adalah Simon Hehanusa, Hermanus, Juju (kiper), Ishak Udin, Iljas Hadade, Rukma, Fatah Hidayat, Sunarto, Thio Him Tjhaiang, Ade Dana, Hengki Timisela, Wowo Sunaryo, Nazar, Omo Suratmo, Pietje Timisela, Suhendar, dll.

Karena prestasinya itu, Persib ditunjuk mewakili PSSI di ajang kejuaraan sepakbola “Piala Aga Khan” di Pakistan pada 1962. Bintang Persib saat itu juga telah lahir Emen “Guru” Suwarman. Setelah itu, prestasi Persib mengalami pasang surut. Prestasi terbaik Persib di kompetisi perserikatan meraih posisi runner up pada 1966 setelah kalah dari PSM di Jakarta.

 

LAYAK DITEMPATI: Bupati Sampang berdiskusi dengan kepala Diskopindag di Pasar Margalela, Rabu (30/8).
LAYAK DITEMPATI: Bupati Sampang berdiskusi dengan kepala Diskopindag di Pasar Margalela, Rabu (30/8).
Editor : I Putu Suyatra
#persija #el clasico #persib #liga 1