DENPASAR, BALI EXPRESS - Laga timnas sepakbola U24 di Asian Games 2023 kemarin malam mencuri perhatian dengan kemenangan 2-0 atas Kirgizstan. Pemain sayap, Hugo Samir, mencetak salah satu gol kemenangan yang memikat banyak penggemar.
Hugo Samir mungkin terdengar asing, terutama karena namanya tidak khas Indonesia. Namun, dia adalah pemain keturunan Indonesia-Brasil, putra dari legenda Persebaya dan mantan pelatih Persipura Jayapura, Jacksen Ferreira Thiago.
Hugo Samir lahir di Surabaya pada 25 Januari 2005 dan memiliki darah Indonesia dari ibunya yang berasal dari Surabaya. Meskipun ayahnya adalah warga negara Brasil, Hugo Samir memiliki izin untuk memperkuat timnas Indonesia karena keturunan ibunya.
Perjalanan sepakbolanya dimulai di Surabaya dengan bergabung bersama akademi Persebaya pada 2018.
Sebelumnya, ia telah memamerkan bakatnya dengan mencetak 11 gol dari 7 pertandingan saat berusia 11 tahun dalam kompetisi Karlos Cup tahun 2016, ketika ia masih bermain untuk SSB Banteng Muda.
Namun, Hugo Samir sering berpindah klub dan akademi selama kariernya.
Setelah Persebaya, ia bermain untuk akademi ASIOP pada 2019, lalu bergabung dengan Barito Putera U-16 pada 2020.
Pada tahun 2021, namanya mencuat karena sanksi dari PSSI akibat insiden menendang wasit saat bermain untuk tim junior melawan Persebaya U-18.
Setelah pemulihan, Hugo bergabung dengan Persis U-20. Dua tahun kemudian, ia menarik perhatian Borneo FC untuk musim 2023/2024.
Meskipun masih muda, Hugo Samir belum menjadi starter reguler dan sering kali menjadi pemain pengganti.
Sejak debutnya bersama Timnas Indonesia U-20 pada 17 Februari 2023, ia telah tampil 6 kali dalam pertandingan resmi, termasuk di turnamen mini di Jakarta dan Piala Asia U-20 2023.
Sayangnya, ia cenderung turun dari bangku cadangan, dengan hanya satu penampilan sebagai starter dalam laga melawan Uzbekistan dalam Piala Asia U-20 2023.
Ini adalah gambaran singkat tentang Hugo Samir. Kontribusinya di Asian Games 2023 diharapkan dapat meningkatkan kinerja Timnas Garuda dan membawa mereka menuju kemenangan.
Editor : I Putu Suyatra