DENPASAR, BALI EXPRESS– FIFA Matchday adalah waktu di mana pemain sepak bola seluruh dunia membela negaranya.
Tak terkecuali di Indonesia, puluhan pemain top dari klub-klub ternama dipanggil untuk memperkuat Skuad Garuda senior dalam FIFA Matchday, tapi tak berlaku bagi Bali United.
Dalam beberapa tahun terakhir, punggawa Bali United absen membela timnas Indonesia karena memang tak mendapat panggilan resmi oleh pelatih untuk FIFA Matchday.
Kalaupun ada, paling hanya 1 pemain, tapi setelah itu nihil mengutus wakil ke timnas.
Hal ini pun menjadi sebuah ironi karena Bali United adalah salah satu tim top di Indonesia.
Bahkan sempat menjadi juara beruntun di Liga 1. Tapi nyatanya tidak ada satupun pemain yang dipanggil menuju timnas.
Di FIFA Matchday terbaru ini contohnya. Instagram Bali United (@baliunitedfc) mengumumkan 3 nama yang akan mengikuti agenda FIFA Matchday tersebut yakni Elias Dolah (Thailand), Mohammed Rashid (Palestina), dan Privat Mbarga (Kamboja).
Postingan itu pun menjadi bahan olok-olokan warganet. Ya karena itu tadi, tanpa pemain lokal yang dipanggil oleh Shin Tae-yong.
“Dah, jangan berharap pemain BU dipanggil STY, kan yg dimainkan Teco mayoritas di atas 30+. Ga masuk kriteria STY, apa dikira STY suka main Novri sama Ardi?,” seloroh akun @arwankcasillas.
“Klub punya training center apa lah itu, tapi pemain timnas untuk indonesia nggak ada,” timpal akun @a_a_santanu.
Sementara akun @akhqoni.r memberikan komentar menohok. “Lokal nya tua2 gabakal di panggil sty,” tulisnya lengkap dengan emoticon tertawa.
Jika dilihat dari fakta, memang benar skuad Bali United rata-rata pemainnya sudah berumur dan bukan usia emas lagi.
Di laga melawan Bhayangkara Presisi Indonesia FC saja, dari starter hingga pemain cadangan, hanya 3 pemain kelahiran tahun 2000-an yang disiapkan oleh Teco Cugurra.
Itupun karena regulasi baru yang mewajibkan pemain muda dimainkan minimal selama 45 menit.
Sementara sisanya adalah pemain kelahiran 90-an. Pemain paling tua yang dimainkan di laga tersebut adalah Ilija Spasojevic (kelahiran 1987) dan M. Rahmat (kelahiran 1988). (*)
Editor : I Made Mertawan