DENPASAR, BALI EXPRESS – Kalau bicara soal siapakah klub sepakbola paling tua di Indonesia, Persis Solo bukan jawabannya. Klub berjuluk Laskar Sambernyawa ini didirikan pada 8 November 1923 di Kota Surakarta. Persis Solo lahir 4 tahun setelah PPSM Magelang (1919), dan 6 tahun setelah PSM Makassar (1915).
Tapi kehadiran Persis Solo sebagai klub sepakbola bisa dibilang sangat bersejarah di Indonesia, terutama lahirnya organisasi yang kita kenal saat ini yaitu PSSI. Persis adalah 1 dari 7 klub yang menjadi cikal bakal berdirinya PSSI di tahun 1930 bersama Persib Bandung, PPSM Magelang, PSM Madiun, PSIM Yogyakarta, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta.
Persis Solo awalnya bernama Persatuan Sepakbola Indonesia Soerakarta saat momen Sumpah Pemuda tahun 1928. Namun saat mereka hadir pertama kali bernama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB). Namun lambat laun berubah nama menjadi Persis Solo yang kita kenal saat ini.
Persis Solo didirikan oleh 3 orang tokoh di Kota Solo yang dulunya sempat membuat perkumpulan kecil. Sastrosaksono dari klub M.A.R.S dan Raden Ngabehi Reksohadiprojo serta Sutarman dari klub Romeo. Ketiganya kemudian beriniasi serta melebur menjadi satu dan akhirnya membentuk klub Vorstenlandsche Voetbal Bond tersebut.
VVB kemudian menjadi kecintaan warga Kota Solo. Ketiga tokoh inipun meletakkan nilai-nilai sosial didalamnya dimana permainan sepak bola dapat dimainkan oleh siapa saja tanpa ada batasan tertentu.
Seperti diketahui, ketika zaman kolonial Belanda, olahraga sepakbola adalah olahraganya orang-orang berada dan hanya bisa dimainkan oleh kalangan tertentu maupun bangsawan.
Tahun demi tahun, Persis kemudian semakin eksis dan menjadi sebuah harga diri warga Solo. Pendukung fanatik mereka bernama Pasoepati.
Bukan hanya sebagai klub sepuh dan bersejarah, Persis Solo juga kenyang akan prestasi. Di era kompetisi Perserikatan, Persis sudah mengoleksi 7 gelar juara mulai tahun 1935, 1936, 1939, 1940, 1941, 1942, dan 1943. Hanya saja, sejak kompetisi berganti ke Galatama, Indonesia Super League, hingga Liga 1, Persis belum menunjukkan superior mereka seperti di era Perserikatan.
Rivalitas
Selama 100 tahun berdirinya, Persis Solo menjadi salah satu kekuatan besar sepakbola di Jawa Tengah. Sebagai klub sepuh, yang namanya ‘musuh’ pasti selalu ada. Dalam perjalanannya, Persis Solo lekat dengan rivalitas tinggi dengan 3 derbi di Jawa Tengah.
1.PSIM Yogyakarta
PSIM Yogyakarta adalah rival abadi Persis Solo. Jika kedua tim ini bertemu, judul pemberitaan di media selalu dihiasi dengan headline ‘Derbi Mataram’. Suporter kedua belah pihak, Pasoepati (Persis) dan Brajamusti (PSIM) adalah musuh bebuyutan.
2.PSIS Semarang
Selain dengan PSIM Yogyakarta, rival Persis lainnya adalah PSIS Semarang. Laga kedua tim dikenal dengan Derbi Jateng mengingat kedua tim adalah dua poros kekuatan sepakbola di Provinsi Jawa Tengah.
3.PSCS Cilacap
Dan satu derbi lainnya yang masih jarang terdengar adalah Derbi Jawa Tengah Selatan. Klub yang menjadi rival dalam derbi ini adalah PSCS Cilacap. Derbi ini merujuk dengan lokasi kedua klub yang berada di wilayah selatan Jawa Tengah. (*)
Editor : I Dewa Made Krisna Pradipta