SINGARAJA, BALI EXPRESS – Usianya masih muda. Tubuhnya kecil dan mungil, rambut sebahu, senyum manis dan bergerak lincah serta gesit. Dialah Kadek Adiasih, atlet panjat tebing Buleleng, calon penguasa papan panjat di seluruh dunia.
Ya, harapan itu diamini semua orang terutama KONI Buleleng dan Pengurus Kabupaten Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Buleleng.
Kadek Adiasih kini menjadi salah satu atlet andalan Buleleng dalam cabang olahraga panjat tebing. Jejaknya saat ini telah terekam pada kompetisi internasional. Terakhir ia berkompetisi di Asian Youth Cup 2023 di Singapore dengan menyabet juara ketiga.
Gadis muda dengan sapaan Asih itu lahir 22 November 2006. Otomatis kini usianya baru 17 tahun. Asih tumbuh dan besar di rumah sederhana Dusun Pumahan, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Rumahnya diapit dua sungai, di sebelahnya ada sawah dan hamparan kebun cengkeh yang luas. Masa SD ia lewati di desanya di SDN 1 Gitgit, lalu masuk SMPN 4 Singaraja, dan kini ia tercatat sebagai siswi SMAN 2 Singaraja.
“Sungai itu tempat bermain saya dulu waktu kecil. Jurang dan pohon cengkeh juga jadi teman saya. Biasa naik turun jurang dan panjat pohon cengkeh,” tuturnya.
Asih dibesarkan di tengah-tengah semerbak buah cengkih. Ayahnya Komang Redi Astrawan adalah buruh pemetik cengkih. Ia biasa ikut sang ayah saat memetik cengkih. Kebiasaan Asih naik turun jurang pun dilakukan saat mengekor ayahnya bekerja. Kebiasaan itu membuatnya memiliki kekuatan dan keterampilan natural dalam tubuhnya.
Sementara, ibunya Luh Putu Sutarjani adalah staf Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng. Ia bertugas sebagai petugas administrasi di Terminal Banyuasri Singaraja. Biasanya, Asih pergi ke sekolah bersama ibunya atau diantar oleh ayahnya. Tetapi belakangan Asih bisa berangkat sendiri dengan sepeda motornya. Kendaraan itu ia beli dari hasil memanjat tebing. Dengan demikian, Asih tidak perlu diantar lagi. Ayah ibunya bisa langsung berangkat ke tempat kerja masing-masing.