BALIEXPRESS.ID - Pelatih Shin Tae yong terlepas dari kritik yang dialamatkan oleh segelintir pengamat seperti Bung Towel, secara nyata memberi perubahan pada Timnas Indonesia.
Shin Tae yong menjadi history maker bagi perjalanan Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini
Salah satunya yang terbaru adalah lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia yang berisi 18 tim terbaik dari 9 grup.
Sebelum ini, catatan Timnas Indonesia baik di senior dan kelompok umur juga cukup moncer.
Shin Tae yong adalah pelatih pertama yang membawa Timnas Indonesia ke tiga level Piala Asia. Yakni Piala Asia U20 2023, kemudian Piala Asia 2023, dan Piala Asia U23 2024.
Hasilnya, Piala Asia U20 tidak terlalu mengecewakan meski gagal ke babak knock out atau perempat final. Yakni hanya berada di posisi ketiga grup dari 4 tim dengan torehan 4. Poin yang sama dengan Irak sebagai runner up tapi kalah selisih gol.
Di ajang Piala Asia U23, Timnas Indonesia juga lolos untuk pertama kali dan menjadi grup dalam Kualifikasi pada 2023. Hasilnya mengejutkan. Berhasil menumbangkan Australia dan Yordania di babak grup, dan mengalahkan Korsel di perempat final, dan melajut ke semifinal.
Sedangkan di Piala Asia 2023 yang berlangsung Januari 2024 lalu, Timnas Indonesia juga lolos setelah absen dalam 16 tahun. Kembali buat sejarah karena untuk pertama kali capai 16 besar atau perdelapan final.
Lantas, apa sebetulnya resep yang membuat Timnas Indonesia kali ini begitu gacor?
Jika ditarik ke belakang, Pelatih Shin Tae-yong resmi menjadi pelatih Timnas Indonesia pada 28 Desember 2019. Pada 2020, dia mulai menyusun skuadnya. Tapi, terjeda pandemi Covid-19.
Pada awalnya, kepelatihan Shin Tae yong biasa-biasa saja. Dia sempat memimpin skuad Timnas Indonesia dalam tiga laga sisa Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia pada pertengahan tahun 2021.
Hasilnya, dia hanya meraih 1 sekali seri lawan Thailand, dan 2 kali kalah dari Uni Emirat Arab dan Vietnam.
Pada awal Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia dalam tahun 2019, Timnas Indonesia masih dipegang Simon McMenemy. Hasilnya, dalam 5 laga digebuk Uni Emirat Arab, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Pokoknya jadi bulan-bulanan.
Shin Tae yong juga gagal membawa piala dalam ajang Piala AFF 2022 pada akhir 2022 sampai awal 2023. Hanya sampai di semifinal.
Namun, jika ditilik lebih jauh, sebetulnya peningkatan prestasi Timnas Indonesia, meski belum dapat piala di era Shin Tae yong, adalah keberanian memotong generasi dan adanya proyek naturalisasi di tubuh timnas.
Proyek naturalisasi sendiri makin terasa di era Ketum PSSI dijabat Mochammad Iriawan alias Iwan Bule dan makin digencarkan saat kepengurusan PSSI berganti ke Erick Thohir.
Pada saat masih Iwan Bule dan sebelumnya, sudah ada beberapa nama pemain naturalisasi. Seperti Stefano Lilipaly, Ezra Walian, Irfan Bachdim, Kim Kurniawan, dan beberapa pemain asing yang lama bermain di Liga 1 hingga menjadi WNI seperti Cristian Gonzales, Ilija Spasojevic, Beto Goncalves, Marc Klok, dan lainnya. Hasilnya masih belum menggembirakan.
Kemudian mulailah program naturalisasi dan pencarian pemain diaspora untuk membela Timnas Indonesia.
Nama-nama seperti Elkan Baggot muncul dan resmi memilih jadi WNI pada 2021. Kemudian menyusul Jordi Amat dan Sandy Walsh pada 2022. Mereka menjadi angkatan pertama era Coach Shin.
Elkan sendiri bukan naturalisasi, melainkan pemilik kewarganegaraan ganda karena ayahnya Inggris, dan ibunya Indonesia. Dia memilih kewarganegaraan RI ketika sudah berusia 18 tahun.
Yang terpenting di era Shin Tae-yong adalah berani memotong generasi timnas sebelumnya dengan diganti pemain yang lebih muda dan fresh.
Bahkan, boleh dibilang, cikal bakal skuad utama Timnas Indonesia adalah dari Timnas U20 yang dipersiapkan untuk Piala Dunia U20 dan Piala Asia U20.
Saat itu Timnas U20 melakukan naturalisasi beberapa pemain. Di antaranya adalah Rafael Struick, Ivar Jenner, Justin Hubner, dan lainnya. Pada waktu itu Struick dan Jenner yang berhasil dinaturalisasi, sedangkan Justin tertunda apalagi dia juga dipanggil ke Timnas Belanda U20.
Namun Piala Dunia U20 batal digelar di Indonesia karena keikutsertaan Israel.
Skuad Timnas U20 yang menonjol adalah Marselino Ferdinan, Elkan Baggot, Ivar Jenner, Rafael Struick, Arkhan Fikri, Hokky Caraka, Muhammad Ferarri, Ronaldo Kwateh.
Ketika masuk ke skuad Timnas U23, Shin Tae yong hanya perlu mencoret beberapa nama dari skuad U20 dengan menambahkan beberapa pemain yang usianya di atas 20 tahun baik yang di liga domestik atau tambahan pemain naturalisasi. Masuklah Ramadhan Sananta, Pratama Arhan, Ernando Ari, Rizky Ridho, Fajar Fathurrahman, Beckham Putra, Bagas Kaffa, Alfenadra Dewangga, Witan Sulaeman, Nathan Tjoe A On, Justin Hubner, dan beberapa nama lain
Dari kerangka Timnas U23 inilah kemudian terbentuk Timnas senior yang diperkuat dengan beberapa pemain senior yang bermain di liga domestik, abroad, maupun naturalisasi.
Beberapa pemain lokal senior yang abroad atau bermain di liga domestik, muncullah nama-nama Egy Maulana Vikri, Asnawi Mangkualam, Yakob Sayuri, Yance Sayuri, Ricky Kambuaya, Saddil Ramdhani, Nadeo Argawinata, Dimas Drajad, Wahyu Prasetyo, Adam Alis, Rachmat Irianto, Edo Febriansyah, Dendy Sulistyawan, dan beberapa nama lain.
Nah, Timnas Indonesia sejak era Shin Tae yong diperkuat dengan datangnya pemain naturalisasi yang sudah senior. Dimulai dari Jordi Amat dan Sandy Walsh pada 2022. Kemudian disusul Shayne Pattynama pada 2023, kemudian pada 2024 kedatang Jay Idzes, Ragnar Oratmangoen, Thom Haye, dan yang terbaru adalah Calvin Verdonk.
Khusus Nathan Tjoe A On dan Justin Hubner meski proyek untuk Timnas senior, keduanya masih bisa dimainkan di Timnas U23 dalam Piala Asia U23 lalu.
Jika dilihat skuad Timnas Indonesia senior, maka dapat dilihat bahwa kerangka dasarnya adalah Timnas U20 yang dipertebal di Tim U23, kemudian yang lebih senior.
Transformasi ini lah yang membuat Timnas Indonesia mengalami perubahan signifikan. Hasilnya bisa dilihat sekarang ini. Yakni sejak 2023 sampai 2024 ini.
Timnas Indonesia mengalami lonjakan signifikan setiap event internasional yang merupakan agenda FIFA. Selain di Piala Asia U20, U23, dan senior, juga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dan yang terpenting lagi adalah ranking FIFA Indonesia juga terus membaik dari 175 pada awal STY memimpin, kini sudah di urutan 134 dunia. ***
Editor : Y. Raharyo