BALIEXPRESS.ID - Laga perempat final sepak bola putra Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut antara Aceh dan Sulawesi Tengah yang berlangsung di Stadion Dimurthala, Banda Aceh, pada Sabtu malam, 14 September 2024, memicu kontroversi dari berbagai kalangan.
Tidak hanya di kalangan sepak bola, bahkan seorang jenderal polisi ikut geram atas kepemimpinan wasit Eko Agus Sugiharto.
Kadiv Hubinter Polri, Irjen Pol Krishna Murti, ikut angkat bicara. Melalui akun Instagram pribadinya, @krishnamurti_bd91, dia mengkritik keras kepemimpinan wasit dalam pertandingan tersebut, menyebutnya berat sebelah dan merugikan banyak pihak.
“Masih untung yang emosional hanya satu pemain. Kesian sepak bola Indonesia dihancurkan oleh ulah-ulah wasit seperti itu. Pemain jadi korban, tim Sulawesi Tengah jadi korban, tim Aceh juga menangnya gak elegan,” tulis Krishna Murti, Minggu (15/9/2024).
Dalam laga yang penuh emosi itu, Sulawesi Tengah awalnya unggul 1-0 atas Aceh berkat gol Wahyu Alan pada menit ke-24.
Namun, insiden besar terjadi ketika wasit memberikan penalti kepada Aceh pada menit ke-90+7, setelah pemain Aceh, Muhammad Nur Mahyuddin dianggap dijatuhkan di kotak penalti.
Tak terima dengan keputusan itu, pemain Sulawesi Tengah, Rizki Saputra, memukul wasit hingga terjatuh.
Krishna Murti yang turut menyaksikan pertandingan tersebut mengaku ikut merasakan kekecewaan yang mendalam atas keputusan wasit.
“Saya yang nonton juga emosional. Sudah saya tahan-tahan gak ngupload bola. Kok ya gak tega lihat pemain-pemain bola dikerjain wasit seperti itu,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Krishna Murti mensinyalir adanya dugaan pengaturan skor dalam laga ini. Ia menegaskan bahwa hukuman skorsing untuk wasit tidak akan cukup dan perlu ada langkah pidana jika terbukti adanya pengaturan skor.
“Kalau skorsing ke wasit gak mempan, pemidanaan mungkin cara efektif. Bila ternyata ada unsur keterlibatan tim dalam match fixing, maka kemenangan harus dibatalkan,” tegasnya.
Komentar Krishna Murti ini memicu banyak respons dari netizen yang ikut merasa geram atas kepemimpinan wasit. Beberapa di antaranya bahkan menyarankan agar wasit dan perangkat pertandingan tersebut diblacklist dari semua ajang olahraga.
“Real Madrid juga bisa kalah kalau main di PON Aceh,” komentar @alifdiman.
“Tolong, Jenderal, ini wasit dan perangkatnya diblacklist seumur hidup, gak boleh kerja di bidang olahraga manapun,” tambah @dodysakti.
Di sisi lain, wasit Eko Agus Sugiharto harus mendapatkan perawatan medis setelah dipukul oleh Rizki Saputra.
Kericuhan di lapangan sempat memaksa pertandingan dihentikan untuk sementara waktu sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.
Ketika laga kembali dilanjutkan, Rizk Saputra mendapat kartu merah karena pemukulan terhadap wasit. Namun, penalti Aceh berhasil digagalkan.
Tak berselang lama, Aceh kembali mendapat penalti karena pemain Sulteng dianggap melakukan handsball. Skor berakhir 1-1.
Sulawesi Tengah kemudian memutuskan untuk mundur alias WO, tanpa melanjutkan babak perpanjangan waktu, membuat Aceh otomatis lolos ke semifinal.
Pertandingan ini juga menuai perhatian publik lebih luas, termasuk Ketua Umum PSSI Erick Thohir, yang akan menindak tegas kasus ini.
Di semifinal, Aceh dijadwalkan menghadapi Jawa Timur pada Senin, 16 September 2024. ***
Editor : Y. Raharyo